Chainsaw Menderu, Hutan Buluh Cina Sendu

Kaki kiri laki-laki berusia sekitar lima tahun itu menekan papan-papan kayu yang tak beraturan. Kedua tangannya berpegangan pada besi. Tangan kecilnya belum sanggup menggenggam penuh besi berdiameter sekitar 10 sentimeter. Sedangkan kaki kanannya dieratkan pada kaki besi yang ia pegang.

aku juga bisa! (Foto oleh Heri Tarmizi, Nuskan Syarief KSLH dan Ninuk)

Setelah lelaki dewasa –kemungkinan besar ayahnya- melepaskan tali tambang, ia merubah posisi kaki dan tangannya. Tangan kanan memegang besi, tangan kiri mendekap erat besi hingga menutupi telinganya. Bahkan ketika lelaki dewasa bekopyah itu belum memulai menekan papan kayu, ia yang mungil itu telah melakukannya lebih dulu. Kaki kiri menekan, kaki kanan menahan. Sesaat kemudian, kulihat – bersama Heri Tarmizi dari Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH-Riau) yang mengajakku- gerakan yang sama juga dilakukan sang ayah. Menekan papan sekaligus mendorong kapal agar menjauh dari kayu-kayu yang digunakan untuk jembatan menuju kapal.

sungai kampar menghampar

tamu lebih mahal. tentu

Menuju Desa Wisata Buluh Cina -seberang, Kecamatan Suak Hulu, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau, yang terbelah Sungai Kampar tidak butuh waktu lama. Bahkan kurang dari lima menit sudah sampai seberang. Bagi orang yang baru datang ke desa itu tak perlu takut ditipu tarif penyeberangan. Tim Pengelola Pemelihara Prasarana (TP3) KM Penyebrangan Desa Buluh Cina telah memasang spanduk tarif penyeberangan. Harga bagi warga lebih murah Rp 500,- ketimbang tarif penyeberangan untuk tamu.

cuma sebentar saja

kayu-kayu tebangan mengalir sampai jauh

[/

walau air coklat, tetap segar…

Saat menanti kapal bantuan PNPM Pedesaan –yang tertulis di kapal PNPM Perdesaan Tahun 2008- datang, kita bisa melihat kehidupan sungai pembelah desa yang berjarak 20 Km dari kota Pekanbaru dan sekitar 90 Km dari Bangkinang ini. Perahu kayu bermotor hilir mudik walau tak terlalu ramai. Terkadang, tongkang lewat dengan menggendong kayu berkubik-kubik ke arah hulu. Entah kawasan hutan mana yang dibabat. Di seberang sana, aktivitas di sungai tak henti sepanjang terang. Ibu-ibu mencuci –juga mencuci sayuran yang hendak dijual, juga anak-anak dan orang dewasa mandi.

Tak terawat
Masuk ke desa seberang, jalan-jalan telah disemen. Walau kecil, sepertinya penduduk desa ini terbiasa hidup bersih. Aku tak melihat sampah sepanjang jalan desa. Aku yang masih asing dengan desa itu pun mendapat sapaan ramah penduduk yang berpapasan denganku.

banjir? siapa takut!

Umumnya rumah-rumah di desa berpenduduk 1500 jiwa atau sekitar 300 KK ini berbahan kayu dan berbentuk panggung. Sangat umum pula di bawah rumah ada satu perahu kayu tertambat. Mengapa panggung? ”Jika sungai meluap, rumah mereka tidak tergenang. Sedangkan untuk akses transportasi, setiap rumah bisa menggunakan perahu mereka masing-masing. Ini adalah salah satu bentuk ketahanan hidup warga terhadap kondisi alam,” tutur Heri padaku. Namun, meski banjir masih melanda saat ini beberapa warga mulai membuat rumah permanen, berlantai semen, dan tidak berbentuk panggung.

papan informasi. baca dulu sebelum tersesat

Di antara rumah-rumah warga, ada satu bangunan paling besar berhalaman luas. Bentuknya juga panggung walau di lantai bawah dibuat ruangan-ruangan kecil. Pintu berdaun dua terbuka satu. Aku ingin tahu isi dalamnya. Heri enggan masuk. Ia hanya mengatakan, ”Malas aku,” padaku saat kuajak masuk.

katanya balai adat. sayang, tak terawat

Sepuluh anak tangga kujajaki. Saat menapak, aku harus memilih. Tahi kambing banyak sekali rupanya. Lalu ketika aku masuk di dalam rumah beratap campuran seng dan genteng warna biru, bau tahi kambing semakin tajam. Hmmm, pantas saja koordinator KSLH itu enggan masuk! Informasi yang kuperoleh, rumah ini merupakan balai adat. Ada belasan foto terpampang tapi tak terawat. Satu meja besar dibiarkan teronggok dengan debu tebal.

Di halaman balai adat seharusnya ada burung di Taman Burung. Namun ternyata nama yang terpampang hanya tinggal nama. Tidak satupun burung kutemukan di Taman Burung. Dalam kandang-kandang berukuran besar itu hanya ada tumbuhan yang kukira hidup dan tumbuh tanpa diharapkan.

Chainsaw membelah hutan, Kalpataru melayang
Pengunjung Eco-Wisata Rimbo Tujuh Danau tak usah takut tersesat saat menjelajah hutan seluas sekitar 1000 hektar. Papan informasi yang dibuat oleh Chevron dan BPMigas menyebutkan petunjuk keamanan. Begini ditulis. ”Ikutilah jalan setapak yang telah ditentukan.” Pengunjung juga disarankan untuk menggunakan jasa pemandu dari warga sekitar, serta tidak masuk hutan setelah pukul 17.30 WIB.

Kali pertama ke sana bersama Heri, aku kecewa tidak bisa masuk rimba. Air danau meluap sehingga jalan semen tergenang. Pada kunjungan berikutnya, bersama Heri, Nuskan Syarief, dan Abdullah Rinaldi Zen (Aris) yang juga dari KSLH Riau, aku bisa masuk dekat danau. Menurut informasi yang kuperoleh dari teman-teman, Desa Wisata Buluh Cina memang diapit banyak danau. Di sebelah selatan terdapat Danau Tuok Tonga, Danau Baru, Danau Tanjung Putus, Danau Pinang Dalam, Danau Pinang Luar, Danau Rayo, Danau Tanjung Baling, serta Danau Bunte. Sedangkan danau di sebelah utara, terdapat Danau Rengas, Danau Rawang, serta Danau Lagun.

bukankan ini indah?

Dahan pohon saling terpaut. Jika tidak banyak semut merah, pastilah aku naik di dahan-dahan yang berbentuk seperti gapura itu. Nuskan malah mengajakku bergelantungan pada dahan. Dulu ketika aku masih bertugas di Taman Nasional Bukit Duabelas, Orang Rimba sering mengobati demam dengan meminum air yang ada di dahan bergelantungan itu. Sayangnya aku lupa nama latinnya.

seperti gapura

berayun-ayun

pondok untuk istirahat

Di antara kicauan burung, suara chainsaw menderu seakan membelah hutan dan danau. Mungkin deru yang sama-sama memekakkan telinga itu juga terjadi beberapa bulan sebelum Menteri Negara Lingkungan Hidup mencabut Kalpataru. Penghargaan lingkungan bergengsi ini pernah diberikan kepada 12 tokoh adat masyarakat Desa Buluh Cina pada 5 Juni 2009. Ninik Mamak Negeri Enam Tanjung dianggap berhasil menyelamatkan dan melestarikan hutan wisata Buluh Cina.

Namun, pembukaan jalan yang membelah hutan wisata yang bertujuan untuk membuka isolasi kawasan kemudian dianggap merusak kawasan hutan. Meneg LH akhirnya mengeluarkan SK No.4677 tentang pencabutan Kalpataru yang pernah diberikan. Penyerahan kembali Kalpataru oleh Ninik Mamak Negeri Enam Tanjung dilakukan di Kantor Pusat Pengelolaan Ligkungan Hidup (PPLH) Regional Sumatera pada pada 2 Agustus 2009.

Iklan

Asap Rokok di Pesawat NBA bak Jejak Tambang

Snngggg….

Hidungku tiba-tiba mendengus bau sangat tak sedap. Kutahu biasanya bau seperti itu keluar dari lubang di antara dua bokong. Kentut!

Tak ada akses dengan udara keluar. Jika saja saat itu aku berada di dalam mobil, cepat-cepat kubuka kaca agar udara busuk itu lekas berganti. Tak ada tindakan lain kecuali segera menutup hidung dengan peralatan seadanya. Kain pengusir hawa dingin kudekap di hidungku. Ternyata bukan hanya aku yang mencium kentut itu. Mbak Eni yang duduk di sebelah mbak Elis mendengus-dengus kesal. “Mambu entut ya,” katanya. Aku hanya ‘membaca’ bibirnya, sedangkan suaranya sama sekali tak kudengar.

co pilot yang masih nengok-nengok catatan

Perkiraanku ketika bau busuk itu menyengat, kami belum masuk ke wilayah Aceh. Mungkin juga di perbatasan Sumatera Utara dan Aceh. Rumah-rumah semakin jarang. Bahkan kadang aku berada di antara pohon rindang. Daunnya membentuk bulatan-bulatan seperti rambut krebo tampak dari atas.

leuser

Lalu tiba-tiba ruangan kecil pesawat Nusantara Buana Air yang hanya berkapasitas penumpang 19 tempat duduk itu terasa sangat sesak. Kepalaku lingak-linguk mencari-cari sumber bau berbeda. Para laki-laki itu lebih banyak yang memejamkan mata ketimbang melamun atau melihat ke jendela bulat. Kabut asap menyeruak pesawat yang hanya beroperasi di hari Senin dan Jumat itu.

asap rokok dalam kabin pesawat. Mbak Santi dan mbak Elis...

Tulisan “No Smoking” di dinding menghadap penumpang, di atas kotak PPPK masih jelas terbaca. Tanda rokok disilang pun masih jelas dan kuyakin bisa dilihat hingga kursi paling belakang. Tapi, mataku tidak menemukan seorangpun mengepulkan asap rokok dari mulutnya. Mbak Elis yang tak tahan asap rokok semakin menutup hidung dalam kantuknya. ”Soko kono (dari situ),” ujar mbak Santi seraya menunjuk ruang kendali di depan kami.

Hmm, baru tahu kalau di atas pesawat pun orang bisa merokok seenaknya. Jika mbak Santi benar, justru pilotnya yang merokok dari ruangan sempit di depanku.

pulau dua bakongan

Hoahhh, sebentar lagi sampai bandara T. Cut Ali Tapaktuan. Pulau Dua Bakongan yang pernah kusinggahi tampak berjajar. Kapal tongkang pengangkut bijih besi yang banyak mengandung emas tampak merapat di salah satu pulau. Entah kapan ia akan menuju Cina membawa kekayaan bumi Serambi Mekah dan hanya meninggalkan jejak kerusakannya. Beberapa menit kemudian, sungai campur tanah seperti susu coklat mengeliat hendak menuju laut. Alirannya berasal dari tambang bijih besi di wilayah Menggamat, Kabupaten Aceh Selatan. Jejak tambang seperti udara yang kuhirup dalam pesawat Medan – Tapaktuan. Menyesakkan…..

sungai keruh... ada air raksa juga?

Usir Koruptor dengan Kayu Naga dari Muria

Laki-laki tua yang berjalan beriringan dengan seorang perempuan berjilbab, yang kuduga istrinya, menghentikan langkah tepat di hadapan pedangan tanpa lapak. Mulanya ia ragu-ragu memilih berhenti atau melanjutkan langkah. “Tenan ki mas iso gae tikus lungo (Beneran nih bisa membuat tikus pergi)?” tanyanya pada laki-laki yang gesit membuka sisik kayu.

Nggih Pak. Menawi Bapak mboten percaos kulo, benjang tindak mriki melih. Kulo saben Minggu dasar teng ngriki (Ya Pak. Jika bapak ngak percaya, besok datang lagi ke sini. Setiap hari Minggu saya jualan di sini),” ujar lelaki dihadapannya tanpa melepaskan pandangan pada kayu yang dipegangnya. Bahasa Jawanya kurang halus.

“Opo ki jenenge Mas (Apa nama –kayu- ini)?” tanya Bapak itu lagi. Kali ini, ia mulai memegang-megang kayu bermotif itu. Belum juga dijawab, laki-laki berjaket kotak-kotak itu bertanya lagi, ”Wite koyo opo to ki mas (Pohonnya seperti apa sih mas)?”

Tolak tikus berdasi juga nggak ya?

Wite kulo nggih dereng ngertos Pak kados nopo. Sanjange kados pakis. Nggih niki kayu naga saking Muria (Saya juga kurang tahu bagaimana bentuk pohonnya. Katanya seperti pohon pakis. Niki Kayu Naga dari Muria).” Lalu pedagang yang mengaku berasal dari Kudus itu mengatakan, kayu pakis haji banyak ditemukan di kawasan lereng dan hutan Muria, Kudus. Entah sudah melewati penelitian atau tidak, kayu bermotif seperti batik –tapi sebagian orang juga mengatakan mirip kulit ular ketika diseset- sejak lama dipercaya dapat mengusir tikus. Menurut mas pedagang, potongan kayu ukuran 10 x 15 cm efektif mengusir tikus dalam ruangan 25 m2.

motif batik. ada juga yang bilang seperti sisik ular

Pasangan suami istri itu berlalu setelah membayar kayu berukuran 10 x 30 cm sebesar Rp 6000. Ia tak mau diberi kantong plastik oleh si penjual. Kudengar dari arah belakang laki-laki itu berkata pada istrinya.

kayu pembasmi tikus (foto-foto oleh ninuk)

Kudune gedung DPR MPR RI, gedung-gedung perwakilan rakyat, kantor-kantor pemerintahan soko kelurahan, dinas-dinas, tekan istana negara kae dipasangi kayu Muria iki, Bu. Ben tikus-tikus kantor kui podo minggat soko negarane dewe. Ben negarane dewe ki steril soko tikus-tikus (Seharusnya gedung DPR MPR, gedung perwakilan rakyat, kantor pemerintahan dari tingkat kelurahan, dinas, hingga istana negara dipasangi kayu Muria ini. Agar tikus-tikus kantor pergi semua dari negri ini. Biar negri ki steril dari para tikus -koruptor).”

Sekedar info : Bisa dibeli di sekitar Stadion Manahan tiap hari Minggu pagi

Cuci Mata-Uangmu di Manahan Minggu pagi!

Jika saja mbak Tatik tidak menanyaiku begini, “Katanya setiap hari Minggu pagi, Stadion Manahan rame ya Nuk? Tapi kudengar nggak hanya orang olahraga aja ya yang kesana?”

ada blackberry juga (foto-ninuk)

Aku yang ditanya hanya mengiyakan. Ragu-ragu menjawab benar bahwa di tiap Minggu pagi di sekeliling Stadion Manahan ramai oleh pedagang, sekaligus pengunjungnya. Aku takut jika mbak Tatik bertanya lebih lanjut, ”Pedagang apa aja?”

Lalu, jauh hari sebelum aku pulang ke Solo, Vian ponakanku kuminta berjanji. ”Tenan lho aku dijak neng Manahan pas Minggu esuk (Beneran lho aku diajak ke Manahan pas Minggu pagi)!” Malu lah aku jika ada teman menanyaiku lagi tentang Manahan Minggu pagi, aku hanya geleng kepala tak tahu apa-apa.

Vian manut dan memenuhi janjinya. Cindy adiknya juga ikut bersamaku. Mataku mengembara di hampir semua sudut. ”Kok jek sepi Nduk?” tanyaku pada mereka berdua. Yap, kata Vian aku terlalu bersemangat. Terlalu pagi sehingga para pedagang belum menggelar dagangannya. Meski demikian, pedagang latengan (makanan) sudah siap menjajakan dagangannya.

cabuk rambak kesukaanku

Bagaimanapun caranya jika sudah sampai Solo, cabuk rambak dan sego liwet harus bertemu lidahku. Tapi bangun tidur tadi perutku sudah terisi srabi solo dan teh panas buatan ibu. Apa boleh buat, sego liwet harus kunikmati tidak sekarang. Vian dan Cindy memilih cabuk rambak. Karak yang terbuat dari nasi yang diberi garam bleng, dipadatkan, diiris tipis-tipis, dijemur, setelah kering baru digoreng, kunikmati kriuknya. Satu kantong plastik berisi lima lembar hanya Rp 500!

Dari telo godog sampai laminating

Bunga Kurnia Bintang –kata simbah pedagangnya- kubawa pulang dengan harga sepuluh ribu. Awalnya simbah yang katanya berasal dari Tawangmangu, Karanganyar, itu mematok harga sampai Rp. 15 ribu. ”Sedoso mawon nggih, Mbah (sepuluh –ribu- saja ya).” Simbah tersenyum, lalu bilang, ”Yowes gawanen (Ya sudah bawa saja).”

baunya bau jambu air

Cindy yang kelas 5 SD hanya mau Arum Manis. Bukan sejenis mangga, tapi gula yang diwarnai, lalu diolah menjadi benang-benang dan digulung-gulung menjadi bulatan lonjong dengan gagang kayu tipis.

nggak hanya ada di Sekaten

Oh, ternyata tidak hanya Arum Manis, jajanan anak-anak khas Sekaten yang dijajakan di Manahan. Kapal perang berbahan bakar minyak goreng mengingatkanku pada adikku. Dulu setiap Sekaten tiba, ia selalu minta pada Bapak untuk dibelikan kapal othok-othok ini. ”Othok othok othok othok,” begitu memang bunyinya.

kapal othok-othok

Seorang pedagang yang kukira penjual jamu sibuk melayani pembelinya. Ada benda kecil warna-warni mencolok tergeletak di bawah kakinya. ”Kalih ewu mawon. Monggo. Mboten susah-susah melih nglebetke benang kangge dondom. Monggo monggo….(Dua ribu saja. Mari. Nggak perlu susah-susah lagi memasukkan benang ke jarum untuk menjahit –tangan).” Beberapa pembeli mempraktekkan lalu membayar benda seperti gagang silet itu.

nggak perlu mengernyitkan mata. cukup 2 ribu

Dalam keramaian orang lalu lalang, juga membeli, entah di arah mana karena aku sudah tak tahu lagi arah mata angin, dua perempuan berpakaian seksi berlenggak-lenggok di lantai bersemen. Suaranya yang pas-pasan toh cukup menghibur banyak orang. ”Ben minggu yet ono, Bulik (Tiap hari Minggu memang ada –hiburan seperti ini),” tukas Cindy.


Ah, andai aku tahu ada juga tukang laminating, KTP adikku akan kubawa. ”Oalah, aku yo lagi ngerti lho Bulik,” seru Vian seraya tertawa. ”Ya Allah, ono to yoan….(ternyata ada juga to),” katanya lagi. Lapaknya di belakang panggung hiburan. Beberapa saat kemudian aku juga menemukan lapak laminating lagi.

laminating biar aman

buat para perokok

Duduk di atas karung beras bekas, seorang nenek hanya terpaku melihat setiap orang yang lewat di hadapannya. Sesekali menatap dagangannya yang sepi pembeli. Ya, di jaman sekarang yang banyak orang berlomba membuat makanan silat lidah, siapa sudi sekalipun hanya melirik telo godog (ubi rebus), kacang godog. Toh demi sesuap nasi, simbah setiap hari Minggu berjualan di Manahan. ”Yen ora payu yo diiderke, Nduk (Jika tidak laku ya jualan keliling),” matanya sayu.

sepi…
Dari arah simbah menatap kejauhan, beberapa laki-laki tampak duduk santai bersandar bangunan putih muram. Koran lokal Solopos dibaca miring-miring agar mendapat cahaya yang cukup di antara dedaunan yang lebat. Ketika kumendekat, kaki putih orang bersandar sedang dipijit-pijit lelaki lainnya. Oh, toiletpun menjadi tempat pijit refleksi dan kebugaran! Ah, rasa pipisku malah sirna.

siapa butuh dipijat?

Meski matahari mulai meninggalkan bumi, pengunjung semakin banyak saja. Jam 10 nanti, Vian akan membawaku ke ngGawok. Ada pasar pon-an di sana. Kata mbak Yus iparku, jadah wajik di sana enak-enak. Bibit tanaman juga tinggal milih. Yolah, ayo pulang Pi….”Aduh!” Kaki Cindy kesandung kursi rotan yang ditata di pinggir jalan menuju pintu keluar masuk.

ikan sapu-sapu

Horeeee, Bis Tingkat Kembali Lagi ke Solo

Begitu teriakku saat membaca status teman di halaman jejaring sosial. Hari Minggu (20/2), bertepatan dengan hari jadi Kota Solo ke 266, Pemerintahan Kota Surakarta kembali mengoperasikan bis tingkat di Kota Solo. Bedanya, bis tingkat tempo dulu –sejak 1983 sampai akhir 2000- digunakan untuk moda transportasi rute Kartosuro-Palur, kini untuk pariwisata.

Ingatanku melayang ke tahun-tahun silam ketika bis tingkat masih menjadi salah satu primadona moda transportasi di Solo. Jika otak terasa jumut, bis tingkat menjadi salah satu ’tempat pelarian’. Aku ingat, dengan menyandang tas ransel, aku menyetop bis di pinggir jalan –kadang juga bersama teman, lalu naik ke lantai atas.

Hatiku girang jika kursi paling depan kosong. Duduk santai di atas, mataku mengembara mengamati berbagai aktifitas warga Solo, lewat bis yang dulu dikelola Damri itu. Dari Palur kembali ke Kartosuro, lalu balik lagi ke Palur. Kalau tidak salah ingat, dulu tarif terakhir Rp.1200. Di bangku depan lantai atas itu pula dulu ide tulisan kerap muncul.

Sayang, Damri memutuskan tidak mengoperasikan bis tingkat lagi. Lagi-lagi jika tidak salah ingat, alasan yang dilontarkan saat itu adalah karena onderdil bis susah didapat. Maklum saja, bis tingkat dulu katanya asal Swiss. Beda dengan bis tingkat baru ini, yang kata Murni temanku, merupakan buatan Magelang.

Selain Solo, dulu bis tingkat juga pernah beroperasi di kota besar seperti Jakarta, Makasar, dan Surabaya. Keberadaan bis tingkat terakhir di Indonesia adalah di Solo.

bis tingkat yang menawan (foto dari bisnis-jateng.com)

Riangnya aku ketika mendapat kabar bahwa pemkot yang dipimpin Pak Jokowi itu mengumumkan pada khalayak ramai mengenai rencana mengadakan kembali bis tingkat di kota bertajuk The Spirit of Java ini.

Kabar dari Murni, bis tingkat ini akan digunakan untuk mengantar wisatawan yang ingin berkeliling Kota Solo. Lokasi-lokasi yang dituju antara lain Keraton Kasunanan Surakarta, Taman Sriwedari, Kampung Batik Kauman dan Laweyan, Mangkunegaran, Museum Radya Pustaka, dan tempat lain.

”Lah, yen neng ngLaweyan parkire ngendi gek’an (Kalau ke Laweyan parkirnya dimana ya)?” tanyaku. Tahu persislah aku di Kampung Batik Laweyan tidak ada tempat lapang untuk parkir.

Kata Murni, ”Yo memang raiso tekan njero. Tapi yo mbuh juga ngko diparkir neng ndi.…(Memang nggak bisa masuk. Tapi nggak tahu juga nantinya akan diparkir dimana).”

Menurut informasi, bis yang dikelola Dinas Perhubungan bersama Dinas Pariwisata dan Seni Budaya itu mematok harga Rp 20 ribu/orang. Bis ini sendiri berkapasitas bus tingkat wisata ini tempat duduk bagian atas 28 buah dan bagian bawah 34 tempat duduk.

Yap, bahkan aku sangat setuju jika bis tingkat kembali digunakan untuk moda transportasi umum. Selain berkapasitas banyak, menghemat jalan, bersifat massal, bis ini tentu saja lebih ramah lingkungan. Bis tingkat juga bisa menjadi sarana refresh otak kala jumut mendera.

Gerbong Khusus Wanita KA Prameks kok Ada Laki-Laki

Pulang liburan ke Jawa, serasa ada yang kurang jika tidak kusempatkan barang satu dua jam melenggang ke luar kota menggunakan kereta api. Maka, ketika mbak Sana mengajakku bertemu di Malioboro, Yogyakarta, dari Solo kotaku, aku memilih melangkahkan kaki menuju Stasiun Purwosari.

Kereta api selain lebih murah, hanya Rp 9 ribu sekali jalan, juga lebih cepat. Satu jam puas kunikmati deretan sawah diantara pabrik dan perumahan yang makin hari makin menyesakkan di atas sepor Prambanan Ekspres.

Sudah lewat stasiun Delanggu ketika kusadar bahwa aku berada di gerbong khusus wanita! Rupanya aku tidak mengetahui kabar bahwa PT Kereta Api Daop VI Yogyakarta membuat gerbong khusus wanita di Prameks. Lalu kudengar keesokan harinya kutanya tetanggaku mbak Sri, sejak kapan gerbong khusus wanita berlaku.

pasangan mahasiswa yang nggak bisa baca (foto-ninuk)

Ia bilang, “4 September tahun wingi, Nuk.” Kata Mbak Sri yang hampir tiap sore mengajak cucunya naik Prameks yang tiba di Purwosari, Balapan lalu stasiun Jebres ini, tanggal itu bertepatan dengan ulang tahun cucunya. Oh, pantaslah dia ingat.

Sayangnya, gerbong khusus yang menurut Kepala Daop VI Yogyakarta, Noor Hamidi S itu untuk menghargai wanita, tidak digubris penumpang laki-laki. Di depan saya persis dua pasang manusia, yang kuyakin mereka mahasiswa di Yogyakarta, menghadap ke gambar peringatan tersebut. Pasangan yang sepertinya sedang dimabuk cinta itu tak peduli tengah di tempat ‘yang salah’. Sedangkan arah belakang, beberapa lelaki juga menghadap tulisan serupa tapi tetap cuek-cuek saja.

Anehnya, petugas yang berkali-kali melintas juga tak ambil pusing. Ia hanya mengatakan, “Egh, yo nek gelem melu peraturan apik mbak. Nek ragelem piye meneh…. Sing numpak ki yo jane ketok’e wong pendidikan mbak, kuliahan, neng yo do ramanut aturan (Kalau mau mengikuti peraturan ya bagus, tapi kalau nggak mau ya mau bagaimana. Yang naik sepertinya juga orang-orang berpendidikan, anak kuliahan. Tapi ya nggak mau mengikuti peraturan).

emang gue pikirin…

Bisa jadi iya, anak-anak negeriku mungkin sudah bosan dengan aturan….

Melongok Kopiah Teuku Umar di Kota Rok Meulaboh yang Kekecilan

Masjid Raya Meulaboh (oleh Elisabeth Huwa) Bedak di tubuhku –bukan di wajahku karena bedak membuat wajahku seperti tertampar debu- telah meleleh dibawa butiran keringat yang mengalir di sela-sela baju. Sudah lebih dari satu setengah jam aku menunggu di warung kue. Mobil travel menuju Meulaboh, Aceh Barat, yang dipesan mbak Elis belum juga menjemput. Padahal Ida ‘kakak’ Wahidah yang berlangganan dengan bang Hasbi biasa menjemput jam tujuh pagi.

Mbak Elis yang juga resah di mess Lamprit akhirnya menelponku lagi. “Kita ke terminal wae, Nuk.” Dan tidak satu pun becak semliwer di jalan yang kulalui menuju mess. Tidak terlalu jauh, hanya 10 menitan berjalan kaki. Mbak Elis yang sudah di luar pagar menunggu becak menuju terminal yang satu lokasi dengan Pasar ‘Pajak’ Induk, Tapaktuan, Aceh Selatan. Lima ribu rupiah terlalu mahal, kata ibu kostku saat sepulangnya kucerita, menuju pajak.

Dorong yuk!
Di kota-kota besar kurasa rumput tak sanggup meneruskan hidup. Hendak hidup, pasang-pasang kaki tak merelakan sejengkal tanahpun untuk mereka hidup. Sangat beda dengan terminal Tapaktuan yang justru disesaki rumput-rumput liar. Dan kucingpun enggan singgah di sisi-sisi bangunan yang kosong mlompong tanpa peminat.

Bapak penunggu loket mengatakan, ”Sebentar lagi, Dik.” Tapi aku sudah sangat hafal, sebentar di sini bisa lebih dari setengah jam. Mobil L300 kami bayar Rp 50.000 per orang. Menaikkan menurunkan penumpang yang dikehendaki penumpang, laki-laki perempuan, tua muda silih berganti. Seorang anak sekitar 8 tahun bersama ayahnya melambaikan tangannya. Tak kuduga, seekor ayam jago kampung –mungkin akan disembelih- menjadi teman seperjalananku sampai Nagan Raya. Kursi yang kududuki dengan mbak Elis, persis di belakang supir, yang seharusnya hanya untuk 3 orang, sempat masuk 6 orang! Di belakang bangkuku tak jauh beda. Mata bola bening anak berusia belum genap dua tahun di belakangku berbicara senang, ”Terima kasih” saat ia kutawari kue yang kubeli di tempat kumenunggu travel. Kue yang tinggal 5 ludes diserbu tangan-tangan yang berbadan kelaparan. Kelak sampai Meulaboh, waktu normal 3 jam terlampau menjadi 5 jam.

Jalanan menanjak di kanan-kiri sawit makin membuat mobil hitam tua yang kutumpangi terseok-seok. Padahal penumpang tinggal tujuh orang. Tiba-tiba, ”Jjjjjjjjjjj…..jjjjjjjjjj….” Warung kopi yang hanya berdiri sendiri dekat masjid yang baru tahap renovasi menjadi tempat ampiran. Kulongok hpku, sudah lebih dari pukul 13. Pantaslah, perutku meraung-raung. Teh botol dingin dan kerupuk menjadi santapan nikmat di terik nan lapar. Beberapa kali mbak Elis bertanya, kira-kira berapa jauh lagi jarak menuju Simpang Empat. ”1 kilo lah.” Tapi ibu yang ketakutan pada kondisi mobil di sampingku berkata, ”Masih jauh!” dan rupanya ia yang benar.

Aku malah menuju masjid, numpang kencing. Saking hafal dengan kebersihan masjid-masjid di berbagai tempat, sebotol air mineral kubawa buat jaga-jaga. Aku benar lagi. Meskipun gaung kebersihan bagian dari iman sering kudengar, serta ditulis di berbagai lokasi –masjid, sekolah, kadang kantor pemerintahan, atau tempat umum- tetap saja kebersihan toilet tak terjamin. Busuk, pesing, kotor tak terkira. Saking busukku kulihat ada tinja menghitam yang tidak disiram! Sayang, kamera tak kupegang untuk mengabadikan toilet-toilet jorok itu. Mungkin kebiasaan hidup jorok itu pula yang membuat murid-murid SDN Kuala Ba’u serempak mengatakan, ”Tempat yang paling tidak saya sukai adalah WC sekolah karena kotor, sangat bau.”
ada dimana-mana

Dosen mata kuliah tasawufku dulu pernah berkata, ”Tingkat keimanan seseorang bisa diukur kok dari bersih tidaknya kamar mandi di rumah mereka.” Ruang paling privat itu juga menjadi penanda apakah seseorang menyayangi diri sendiri atau tidak. Panjangnya lagi, jika seseorang tidak bisa menyayangi dirinya sendiri mustahil bisa menyayangi orang lain.

Keringat abang sopir membanjiri baju kaosnya. Ia tidak berhasil menghidupkan mesin mobilnya. Si Ibu yang katanya Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera), istri si bapak tua memberinya saran untuk mobil didorong saja. Aku sendiri nggak ngerti mesin. Apa yang dikatakan suami istri pada sopir angkutan ini tak kutahu. Sarannya untuk mendorong mobil membuatku terperangah. Nanjak gini?! Batinku.

Enam perempuan dan satu lelaki yang kuperkirakan lebih dari 60 tahun, aku salah satu perempuan di situ. ”Satu dua tiga…..” lemas badanku hanya beberapa langkah mendorong barang tua ini. Elok diabadikan dalam layar kamera tapi sangat tidak elok mencederai perasaan orang lain, sehingga hal itu tidak ku atau mbak Elis lakukan.


Kopiah Teuku Umar kekecilan

Teuku Umar dari wikipedia Siapa yang tak kenal Teuku Umar ia akan dikutuki rakyat Aceh. Teuku Umar yang lahir di Meulaboh gugur di Meulaboh saat memimpin perang gerilya melawan pasukan Belanda. Di beberapa foto beliau yang pernah kulihat –juga di gambar pahlawan di kelasku waktuku SD tapi lupa di kelas yang mana waktu kukelas berapa- kopiah atau topi yang dikenakannya miring. Kopiah Teuku Umar itu begitu legendaris di Kota Rok ini.

Saking terkenalnya, sebuah monument untuk selalu mengingat Teuku Umar dibangun di pinggir pantai di Batu Putih. Bangunan itu baru, baru dibangun pasca tsunami. Bangunan aslinya tak ditemukan jejaknya akibat amukan dan hantaman air laut sehari setelah perayaan Natal 2004 itu. Kata duo Ida, bangunan aslinya lebih megah! “Yang ini lebih kecil, tidak sebagus bangunan lama.”

Topi Teuku Umar kekecilan (oleh Elisabeth Huwa)
Di sisi kanan arah pantai terdapat bangunan yang lebih mirip bangunan terminal. Satu ruangan mirip ruang tempat beli karcis serta tempat duduk mirip halte penumpang di pinggir-pinggir jalan. Ruang seperti tempat penjualan karcis itu tak jelas fungsinya, kondisinya pun sudah rusak pada atapnya. Sama tidak jelasnya dengan pembuatan pagar yang pintunya ditutup rapat sehingga pengunjung harus masuk melompati pagar seperti yang kami lakukan. Belasan kali kudengar duo Ida ini menggutuki pimpinan daerah mereka, Ramli MS.

Lembaga donor lupa dapur
Puluhan hektar lahan tak tergarap hanya ditumbuhi ilalang. Pada rawa-rawa, kangkung menjalar subur tanpa sentuhan tangan manusia. Barangkali makhluk berakal di sini juga tak sudi memanennya walau untuk ‘kawan nasi’ –istilah yang baru kudengar sejak kuberada di Aceh- saat sarapan atau makan siang sekalipun. Menurut Ida adik, pada beberapa lokasi yang ditunjukkan padaku, dulu sebelum tanggal 26 Desember 2004 sudah hampir tepat disebut pemukiman kumuh. “Pemukiman padat, Nuk. Kumuhlah, rumah berdempet-dempet. Semua habis! Jadi rawa sekarang. Orang tidak mau lagi tinggal di sini.”

Bekas-bekas semen padat rata di tanah, di sela-sela air berwarna hitam menandakan dulu pernah ada bangunan di atasnya. Rumah masa kecil Ida di Blower sudah berubah bentuk dari foto yang diperlihatkan padaku malam sebelum kami keluar lagi. Bangunan permanen berbentuk sama, dari depan tampak pintu di samping jendela kaca, di sisi kanan atau kirinya tembok dengan jendela kaca menjorok ke depan yang didalamnya adalah kamar, beratus jumlahnya. Aku yang orang kampung bosan melihat bangunan yang bentuknya tidak variatif. Rumah mamak bang Tapoen, Mak Chik pun juga sama bentuknya dengan deretan rumah-rumah tetangganya.

Rasan-rasanku pada Ida kakak, “Belum pernah sekalipun kutemukan rumah bantuan di Aceh yang dibangun sekalian dilengkapi dengan ruang dapur. Pasti orang yang diberi bantuan rumah harus menambah sendiri bangunan dapur. Apakah lembaga yang membantu, juga konsultan atau lembaga donor tidak menganggap penting dapur?” Mungkin saja orang-orang yang bekerja di lembaga implementator –LSM- atau lembaga donor dan konsultannya tidak pernah masak di dapur. Jika perut menuntut sgera diisi, tinggal melangkahkan kaki ke rumah makan saja.

Jagung dan kacang rebus pelabuhan. Kalau siang tidak dijaga (oleh Elisabeth Huwa)Daripada ngrasani LSM dan lembaga donor, mendingan makan jagung bakar yang dipesan mbak Elis. Belum juga habis jagung muda di tanganku, mbak Elis sudah ubek minta piring yang dipakai untuk tempat jagung. Mentari masih enggan pergi, tapi si ibu penjual jagung bakar tidak boleh menjemput rembulan dan lalu mengantarnya hingga tepat berada di atas kepalanya. “Kasihan ya, orang cari nafkah, jam segini sampai malam ramai-ramainya orang keluar malah nggak boleh jualan sampai malam,” kata mbak Elis.

Akal bulus dibulusi
Di berbagai sudut Kota Rok Meulaboh pada Sabtu dan atau Minggu malam tidak tidur. Temaram di sana sini. Bisa jadi untuk menambah suasana romantis sekitar pantai. Atau juga karena memang belum mampu memberi fasilitas penerangan.

Pelabuhan bangunan baru tampak kerlap-kerlip kehidupan kulihat dari jalan Yos Sudarso. Di beberapa titik jalan di Lhok Geudong pun orang bercakap-cakap menikmati debur ombak yang tak terlalu besar. Ida kakak yang memboncengkan mbak Elis, dan Ida ‘adik’ Raudah – duo Ida ini anak kembar umi- yang memboncengkan aku membawa aku dan mbak Elis ke arah pelabuhan. Pintu pagar seng terbelah dua ditutup satu. Di belakang pintu tertutup itu parker mobil bak terbuka. Spontan Ida kakak berkata, “Satpol PP. WH!”

Dua motor ngeloyor pergi tak jadi masuk pelabuhan. “Wah, kalau diajak foto mau nggak ya?” tanyaku pada Ida adik. Ia malah tertawa.

“Wah, senang tu mereka. Apalagi kalau kamu sempat bilang, ‘Salut buat abang-abang. Malam minggu di saat orang-orang berpacaran, libur, bersenang-senang, abang-abang ini malah bertugas mengabdi pada negara’,” ujar Ida kakak panjang lebar padaku dan mbak Elis. Kami tertawa mendengar ocehannya.

Pelabuhan adalah salah satu area para muda memadu kasih. Lantas, apakah dengan penjagaan Waliyatul Hisbah (WH) para muda nggak bisa bermesraan di pelabuhan? “Siapa bilang! Anak muda tuh panjang akal, Nuk. Tidak boleh berboncengan berpasangan, ya masuk ke pelabuhan cowok boncengan sama cowok, yang cewek sama cewek. Nanti sampai sana ya tinggal berpasang-pasangan. Banyak yang begitu tuh di sana,” tutur Ida kakak bersemangat.

Wew, akal bulus dibulusin tuh namanya, batinku. Raut mukaku menyembul senyum. Ya ya ya….

Ikan asin setipis Ninuk
Rencana sarapan pagi di tepi pantai tidak jadi kami lakukan. Mataku di hari libur merajuk. Pasang mata lain milik mbak Elis dan Ida kakak juga demikian. Mataku mengatup rapat lagi usai subuh, sekaligus sebagai alasan tidak tahu harus mengerjakan apa (atau ngapain) di rumah Ida yang juga malah balik tidur lagi. Rasa ”Nggak enak kalau bangun siang, dikubur dalam-dalam. Ida kakak menghendaki kami tidur di rumahnya –jika ”Umi tidak mencoretmu dari daftar hak waris,” serta mengancam kami, ”Jalanlah sendiri kalau nginap di hotel, nggak mau kami antar kemana-mana,” membuat mbak Elis bergidik. Yah lumayan bisa lebih irit Rp 150.000 untuk sewa kamar hotel dengan tarif termurah. Rumah Ida tidak jauh dari ’mana-mana’ yang aku dan mbak Elis inginkan untuk berlibur, juga pantai…

Tidak salah jika duo Ida mengajak kami ke pinggir pantai Suak Ribee di Cafe Teratak Tua hampir tengah hari. Panas tapi semilir. ”Andai tadi bawa bantal,” kataku. Kulitku terasa terbakar ketika jaket kulepas. Bimbang. Tidak dilepas gerah, dilepas membakar. Tapi bukan berarti aku takut kulitku makin menghitam, ”Bukankah kulit hitam terbakar itu eksotik?”

Pondok paling ujung kami pilih sembari menunggu bola-bola kelapa muda murni. Murni karena tanpa ditambah gula, asam –yang ternyata jeruk diiris tipis-, juga es batu. Bang Tapoen, bersama kak Meri dan si ganteng Akbar datang belakangan. Ajakanku kemarin sore lewat pesan-pesan pendek ke bang Tapoen meleset. Kami batal makan empek-empek yang menjadi langganan Ida dan kami teman-temannya yang sangat suka menitip atau dikirimi makanan asal Palembang itu.

Mbak Elis, Ida kakak adik, dan aku tak melewatkan teriknya siang untuk tetap menghibur diri lewat jepretan kamera. Apapun gayanya asalkan bisa pamer bahwa liburan kali ini tak hanya golek-golek di atas ranjang.
Biar terik tetap asik (oleh Elisabeth Huwa)

Tamu tak diundang datang yang hanya padaku membuatku jengah. Tak ada s’erep di tas kecilku. Kebetulan Ida harus menunaikan ibadah. Rumah Mak Cik kami singgahi lagi. Kelak sampai di sana, Ida kakak malah tidur. Walau akhirnya terbangun saat cacing-cacing di perutnya belingsatan kelaparan. Ikan asin yang bergantungan di ujung jalan Yos Sudarso yang kami lewati saat mencari makan siang membuat lidahku juga ikut belingsatan.

Besar-besar!!!! Batinku berdecak kagum, betapa kayanya negeriku. Ikan sebesar-besar tubuhku dibelah tipis menjadi ikan asin. Tapi aku dan mbak Elis ngeri membeli yang paling besar. Ngeri menghabiskannya jika kami beli! ’Hanya’ ikan sebesar pahaku belah dua yang kami timbang. Satu kilo seharga Rp. 50 ribu, dan masih boleh kurang lima ribu setelah ditawar. “Sekarang sedang mahal Kak karena sedang tidak musim.”

Mbak Elis rupanya juga ingin berbagi goyang lidah ikan asin Indrapuri pada keluarganya di Jawa Timur sana. Ditanyainya sang penjual tentang teknik bungkus membungkus agar tidak terlalu bau. “Bisa lah Kak. Kalau nggak bisa membungkus, kami nggak bisa ekspor ke Singapura sampai Abu Dhabi,” katanya bangga. Hebatnya nelayanku! Aku pun bangga walau tak kunampakkan padanya.

Setipis Ninuk (oleh Elisabeth Huwa)
Ikan asin Indrapuri atau yang lebih dikenal ikan asin Blower sudah diterbangkan sampai mancanegara. Selain negara-negara Arab juga ke Eropa. Ikan Talang, Kakap Merah, Kakap Putih, Kakap Hitam, dan berbagai jenis ikan lain diolah dengan garam dapur, lalu dijemur di teriknya matahari pantai.

Ayam penyet –yang kata dua Ida paling enak di Kota Rok, tapi lebih enak di Solo dan Jogja kata mbak Elis- milik Robby lahap di mulut-mulut yang merasakan enak hanya belasan sentimeter. Pada arah depan warung makan milik Robby dan tetangga-tetangganya, pemandangan tidak elok dipandang mata. Para penikmat ayam penyet disuguhi sampah di pinggir jalan di tepi taman kota yang dikelilingi selokan (parit).

Taman kota yang tak sedang dipandang mata. "Kalau hujan, banjir di sini," kata Ida adik (oleh Elisabeth Huwa)

Kesedihan telah berlalu
Kesunyian tiba-tiba merasuk ke dalam kalbu. Sekiranya aku salah satu dari mereka, aku akan abadi di sana tanpa seorang pun bagian darahku mengetahui dimana tepatnya ragaku berada.

”Masuk saja. Nggak dikunci. Kamipun sudah malas masuk ke sana,” ujar seorang bapak pada kami ketika Ida bertanya boleh masuk atau tidak. Serombongan orang di atas truk bak belakang bersorak, ”Kuburan massal tsunami…. kuburan massal tsunami.” Sebagian pandangan mata menatap sinis. Seorang berkata, ”Ngapa orang mau ke situ,” dengan logat Aceh yang kental.

Di sini nama kami hanya satu "Korban Tsunami" (oleh Elisabeth Huwa)

tidak disebutkan berapa jumlah korban yang dikuburkan di sini (foto oleh Elisabeth Huwa)
Hanya rumput-rumput yang mulai beranjak menggapai matahari yang sudi menemani raga-raga yang hanya bernama ’korban tsunami’! Tidak jelas berapa ratus atau ribu raga tanpa nyawa dikubur di kuburan massal tsunami itu. Pada saat-saat tertentu, satu per satu orang yang merasa kehilangan sanak saudaranya terpukur menunduk memanjatkan doa di sana. Ya, sekalipun belum tentu nama yang disebut dalam doanya terbujur di dalam bangunan bercat putih itu.

Dua Ida yang asli Meulaboh pun baru kali pertama masuk bersama kami. ”Aku masih sulit melupakan peristiwa yang hampir merenggut nyawaku,” kata Ida kakak yang sempat berjam-jam terombang-ambing di tengah laut saat tsunami menggulung ratusan ribu nyawa.

Tempat abadi yang sepi, sesepi batang pohon yang teronggok mati di pinggir pantai Ujung Karang tak jauh dari bangunan ini. Barangkali ia juga sangat bersedih ketika ratusan bangunan dan orang-orang yang ada di dalamnya, juga puluhan polisi yang hendak meresmikan bangunan asrama militer Gajah Putih tak mampu dilindunginya seorang diri. Kesedihan nyata ada saat jiwa orang-orang tercinta direnggut tanpa kita bisa merawat sebagaimana lazimnya. Ya, aku hanya berserah kepadaMu.

Masjid Raya Meulaboh atau Masjid Raya Bank BPD
Niatku berfoto dengan WH Meulaboh tak kesampaian. Jalan Gajah Mada menuju arah Kantor Bupati tidak dijaga WH. Kata Ida adik, ”Jangan lewat jalan itu di jam pagi sampai sore kalau nggak pakai rok! Bakal disuruh berhenti, tanda tangan, diceramahi ini itu.” Meski begitu, Ida adik tak pernah jera ’kena tangkap’ karena tidak memakai rok. Lah, bukannya dalam Peraturan Bupati Aceh Barat Nomer 5 Tahun 2010 Tentang Penegakan Syari’at Islam Dalam Pemakaian Busana Islami tidak secara gamblang disebutkan tentang pemakaian rok?

”Siapa bilang? Mau pakai celana longgar, celana jeans tetap saja kena, Nuk! Pokoknya yang nggak pake rok bakal kena! Aku kan olahraga tiap pagi. Waktu tu Umi minta dibeliin buah. Yang paling dekat di jalan Gajah Mada. Lewatlah aku. E, ditangkap! Sampai kutanya, apa iya aku olahraga harus pakai rok? Dimana otak kalian! Harus kulepas celanaku sekarang? Tapi WH tetap bersikukuh aku salah karena pakai celana training.” Beruntunglah aku yang tidak memakai rok sedang tak ada razia rok. Jika toh aku ’kena’ juga, sudah kupikirkan masak-masak aku akan lepas celanaku.

’Area rok’ juga meliputi masjid. Masjid Raya Meulaboh yang dekat dengan rumah duo Ida di Gampong Sineubok sangat megah. Bangunan ala Timur Tengah itu pada gapura pagar masuk tengah dibangun. Sama megahnya. Duo Ida, terutama Ida adik, tak mau ketinggalan untuk bergaya di layar kamera. “Aku belum pernah berfoto di sini.”

Aku belum pernah difoto di sini, kata Ida adik (foto oleh elisabeth huwa)

"Mbak Elis, aku juga mau difoto," kata Ida kakak

Jadi, bangunan masjid ini Masjid Raya Meulaboh atau Masjid Raya Bank BPD? “Itulah bodohnya. Masak bangunan masjid ada logo Bank BPD. Katanya untuk bukti kalau uangnya memang untuk membantu pembangunan masjid. Bukti kan nggak harus berujud bangunan logo begitu,” Ida adik sewot.

Di sisi kanan kiri gerbang masjid ada logo BPD (foto oleh elisabeth huwa)
Bupati Ramli MS pernah menyampaikan tentang logo Bank BPD di pintu pagar Masjid Raya Meulaboh sebagai bentuk pertanggungjawaban ke Bank Indonesia. Setelah dipertanggungjawabkan, logo Bank BPD katanya akan dicabut. Memang BPD kasih bantuan berapa rupiah? “Rp 1 Milyar,” kata Ida adik. Ooo, tapi kapan pencabutannya ya?

« Older entries