Menangis = Cerai!

Saat kutuliskan kisah ini, belum sekalipun aku merasakan hamil, lebih-lebih melahirkan. Perempuan yang mendambakan anak kerap bertutur bahwa hamil dengan segala tetek bengek yang ia rasa adalah kenikmatan. Menunggu saat-saat lahirnya sang buah hati menjadi penantian yang indah. Lalu, hari H yang dinanti menjadi sejarah yang tak terlupakan.

Pada detik-detik kelahiran, belum pernah sekalipun kudengar, ”Oh, enaknya…Nikmat betul…” Mbak Lilik, istri mas sulungku menangis sepanjang jalan menuju rumah bersalin ketika akan melahirkan Vian ponakanku. Lebih gila lagi Si Tri, adik sepupuku yang memang anak Bapak itu. Seantero Rumah Sakit Kasih Ibu, Sala, menjadi bising oleh teriakannya yang –jujur- membuatku sedikit malu. ”Pak’e…Pak’e…Lara Pak’e….Tulungi aku… (Sakit pak, tolong aku…),” pada Bapaknya, bukan pada suaminya. Ia menangis sejadi-jadinya saat melahirkan Andi, anak pertamanya.

Aku sendiri masih cukup untuk sekedar membayangkan, atau ikut merasakan dari mendengar atau melihat wajah perempuan saat hendak melahirkan saja. Kuyakin tak terkira sakitnya. Jeritan atau tumpahan airmata hanya sekedar ’penetralisir’ rasa sakit yang mendera.

Namun, apa jadinya kala penetralisir rasa sakit itu tumpah, justru hukumannya adalah cerai? Ya, cerai! Ini yang akan kukisahkan padamu. Bagiku, ini sisi kelam kehidupan Orang Rimba yang kerapkali kukagumi.

– –

Hari itu hujan turun sejak sore. Kelelahan berjalan keluar dari rimba membuat aku dan kawan-kawan tidur bagai orang mati. Berdesak-desakan dalam kamar kecil ukuran 2 x 2 m tak mengapa. Rumah pak Jul, contact person di Desa Jernih, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi, toh sangat-sangat lebih nyaman dibanding tenda yang kupakai di rimba. Esok pagi, kami pulang ke Jambi, kota.

Namun, ketukan pintu saat hujan berkejaran dengan gemuruh halilintar membangunkan tidurku. Aku tidak ingat betul jam berapa saat itu. Tapi kuyakin mendekati dini hari. Pintu rumah pak Jul berderit. Aku tidak tahu persis siapa yang membukakan pintu. Mataku berkenyit saat keluar kamar kecil itu. Di ruang tamu memang lampunya terang benderang. Feri, Vian, Abdi masing-masing bersembunyi dalam kehangatan sleeping bag. Mereka tidur di kamar tengah yang jadi ruang untuk menempatkan televisi. Lusi, Wening, Danik yang masih terlelap di ruang tamu.

Ternyata Mangku Mbalai dan…. ah, aku lupa namanya, datang. Tubuh mereka basah meski tidak terlalu kuyup. Mungkin mereka bertudung plastik. Mereka mencari bepak lokoter (dokter). Vian lah yang dicari. Tak begitu lama, Abdi dan Vian terjaga. Muka-muka handuk basah, kusut! Tak jauh berbeda dengan mukaku. Muka-muka letih.

Ado betina kelapaiyon tapi budaknye elah mati (Ada perempuan –yang hendak- melahirkan tetapi bayinya sudah mati),” terang Mangku. Wajahnya yang hitam tegang. Bayi telah keluar dalam kondisi meninggal. Usianya masih sekitar 6 bulan. Tetapi ari-ari atau plasenta belum keluar, masih berada di dalam rahim.

Ia lalu menerangkan lagi bahwa betina kelapaiyon itu tidak berada di rimba, tetapi di kebun karet penduduk, jadi “Dekant (dekat),” ujar Mangku, dengan lafal n dan t berdempetan, agak sengau. Orang Rimba dari Rombong Marituha itu memang sedang membuat sesudungon (rumah sementara) di kebun karet.

Tanpa berpikir panjang lagi, Abdi bersiap bersama Vian. Hanya tinggal mengenakan sepatu karena jaket memang sudah terpasang di badan. Rintik hujan masih mengguyur, angin malam menggigit tulang. Motor lapangan andalan Warsi, trail, keluar kandang. Jalan setapak tentu saja licin, mereka harus berhati-hati. Mangku Mbalai dan @@@ beboncengan lebih dulu. Mereka yang hanya bercawat itu sebagai penunjuk jalan. ”Sikuk e’jam lah sampoi tanoh peranok’on (satu jam sudah sampai di lokasi untuk perempuan melahirkan),” ujar kawan Mangku saat masih di rumah pak Jul.

Setelah Vian dan Abdi pergi, aku balik ke peraduanku. Hanya tidur ayam karena memang ternyata tidak bisa nyenyak lagi. Lebih dari dua jam kemudian, lamat-lamat kudengar suara motor dari kejauhan. Suaranya makin dekat. Benar, Vian dan Abdi kembali.

”Sudah keluar ari-arinya?” tanyaku sesaat mereka masuk rumah Pak Jul kembali. Feri ikut terbangun lagi.

”Apa-apaan Mbak, Orang Rimba tuh! Masak kita diminta datang tapi di sana nggak boleh nolong!” kata Vian. Nadanya bercampur amarah yang tertahan. Abdi yang memang pendiam diam saja, seperti biasanya.

”Mukanya sudah sangat pucat, kayak mayat. Tapi…apalah…Aku bahkan tidak boleh dekat-dekat. Untuk apa lah aku diminta kesana?! Malam-malam begini pula. Nggak habis pikir aku! Adat, adat! Adat kok taruhannya nyawa! Sudah gila orang itu!” Vian benar-benar kesal.

Vian adalah laki-laki. Sekalipun ia seorang lokoter. Dalam adat Orang Rimba, laki-laki tidak boleh menolong perempuan melahirkan. Dari arah bawah (vagina) saat perempuan terbujur hanya boleh dilihat suaminya dan anak-anak yang belum akil baligh. Vian, laki-laki hanya boleh melihat dari arah atas (kepala). Oleh sebab itu ia sangat tahu persis kondisi perempuan yang telah melahirkan tiga orang anak itu sangat kritis. ”Ora ono ekspresi kelaran (tanpa ekspresi wajah kesakitan) tapi bibirnya sampai sudah pecah-pecah ngampet sakit, Mbak. Aku yakin mesti lara banget (pasti sakit sekali)!”

Entah dalam berbagai macam rasa, kami, juga Pak Jul mencoba untuk terlelap kembali. Belum juga kantuk itu hilang, suara motor dari kebun karet semakin terdengar. Pintu rumah Pak Jul diketuk kembali. Dua orang yang tadi menjemput Vian datang untuk kedua kalinya.

Kalu ake hopi boleh bentu betina iyoi, idak usah jomputkeh (kalau aku tidak boleh menolong perempuan itu, aku tidak usah dijemput!” kata Vian agak kasar, bercampur bahasa Melayu.

Bersitegang. Mangku Mbalai merasa bersalah. Dalam hujan yang berangsur mereda, Abdi dan Vian kembali lagi ke sesudungon Rombong Marituhan. Mereka berdua diikuti Mangku dan kawannya yang kulupakan namanya. Entah sekian jam kemudian, Vian kembali dengan amarah yang makin memuncak.

Saran Pak Jul, sebaiknya mencari bidan desa. Ia seorang perempuan. Berbacu dengan waktu, bersama pak Jul yang diboncengkan Abdi dan diikuti motor Mangku, berempat mereka bergerak ke rumah bidan desa. Tak begitu lama mereka kembali. Tangan kosong. Bidan tidak berada di tempat.

Berpikir lagi. Percuma pergi masuk ke dalam lagi jika tidak boleh menolong. Semakin tidak jelas kondisi dan tindakan yang akan diberikan. Para rerayo tetap bersikukuh, adat tidak boleh dilanggar sekalipun nyawa perempuan itu menjadi taruhannya.

Pak Jul dan Abdi entah pergi kemana lagi. Kepergian mereka jauh lebih lama. Ternyata ke desa lain, hingga ke Desa Pematang Kabau. ”Biasa kalau libur dia pulang,” tukas Pak Jul. Pulang, pulang ke kota seperti dokter dan perawat puskemas, serta pejabat-pejabat yang ditugaskan ke desa pelosok.

”Mau tak mau Mbak Ninuk harus ikut. Kuajari,” kata Vian. Ia mempraktekkan padaku cara membuka rahim. Dua jari, jari telunjuk dan jari tengah berjajar, diluruskan. Lalu ketika sudah masuk rahim, pelan-pelan jariku dibuka sehingga membentuk huruf V. Lalu pelan-pelan ditarik, kini tiga jari yang dimasukkan, direnggangkan. Begitu terus sehingga semua jari bisa masuk, lalu ari-ari ditarik keluar dari dalam rahim.

– – –

Ibu muda masih tanpa ekspresi. Ia yang kemarin siang masih memanggul manau (rotan) dari dalam rimba hingga ke desa telah mengalami keguguran. Nyawanya hampir terenggut oleh adat yang diyakini benar. Tidak setetespun keluar airmata. Tahukan kamu mengapa?

Betina kelapaiyon hopi bulih meratop sebab bikin jenton kememaluon. Betina kelapaiyon meratop samo bae nye betina kuloy, jedi nye dicampok lakinye (Perempuan saat melahirkan tidak boleh menangis karena membuat suaminya malu. Jika saat melahirkan ia menangis berarti ia perempuan yang lemah, makanya ia dicerai suaminya)” kata nenek pada waktu aku fasilitasi pendidikan pada anak-anak rombong Ninjo Bepak Betenda, Sungoi Toruyon.

Biak setengah mati, nye ndok mati, betina yoya piado bulih meratop (Biarpun setengah mati rasanya, atau bahkan mau mati sekalipun, perempuan saat melahirkan tidak boleh menangis),” tambah induk Penganten.

Pada ibu muda yang kuyakin lebih muda dariku itu, lebih baik rerayo (para orang tua, perangkat adat) berdebat adat daripada menyelamatkan nyawa seorang perempuan yang berjuang agar banyinya tetap selamat. Vian, lokoter yang laki-laki itu seakan tidak berguna keberadaannya. Ia tidak lebih dan tidak berkurang seperti halnya perempuan kelapaiyon yang tengah mengerang nyawa itu.

2006–

Iklan

Kala Orang Rimba Diagamakan….

Orang Rimba memeluk agama Orang Terang? Benarkah?

Nopember ini bersama Capung dan Martha, aku masuk ke rombong Celitay di Sungai Kejasung Besar, Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi. Potensi murid yang belum memperoleh fasilitasi pendidikan sekitar lebih dari 10 orang. Sedangkan anak-anak yang kini beranjak remaja dan dewasa, beberapa diantaranya telah tokang (bisa) baca tulis hitung. Mereka pernah belajar bersama Butet dan Agustina (Xena). Sementara anak-anak yang memang belum memperoleh fasilitasi pendidikan, saat itu kuperkirakan usianya memang belum mencukupi untuk ikut kegiatan belajar.

Selain mendapat fasilitasi dari KKI Warsi, lembaga tempatku bekerja sekarang, ada fasilitasi dari lembaga lain. Kopsad yang dipimpin Budi (aku kurang tahu nama lengkapnya), pernah mengirim Edi, Hamdan, Mail, dan Suparto. Keempat Orang Rimba itu telah berganti nama dusun. Menurut Suparto, mereka juga sudah diislamkan oleh Budi Kopsad. Bahkan Suparto mengaku telah disunat seperti orang dusun pada umumnya.

Suparto sudah tidak ingat lagi kapan ia bersama teman-teman rimbanya dikirim ke Jakarta. ”Adolah kami dikirim ke pondok pesantren. Kami dikirim ke Tanah Abang samo Pondok Gede. Au, pisah kamia…” ujar Parto dengan bahasa bercampur Bahasa Indonesia.

Kisah Suparto, mereka hanya bertahan enam bulan. Selain rindu keluarga, tidak betah dengan suasana kota Jakarta yang selalu macet dan riuh, Suparto dan kawan-kawannya punya alasan lain. ”Tiap hari haruy bangun pagi. Belum subuh haruy sudah bangun untuk mengaji. Lah sholat ngaji lagi. Disuruhnya kami mandi, antri makan pagi, habiy iyoi ngaji lagi. Bosan ake. Hanya mengaji teruy. Hopiado tentu…(nggak tahu lah).”

Suparto dan Hamdan kini masuk rimba lagi. Ia tinggal dengan istrinya di Rombong Celitay. Sedangkan Edi dan Mail ikut Rombong Tumenggung Mbiring di Singosari. Ketika kutanya apakah ia masih beragama Islam, Suparto tertawa. “Eik, ake lah makon bebi kinia…..hopi salat…. lah jedi urang rimba lah….Beik jedi urang rimba, hopi disuruh-suruh. Kalu rintuk, ndok tiduk, tiduk bae piado urang melarong kamia…(Saya sudah makan babi lagi sekarang. Tidak menjalankan sholat, jadi Orang Rimba lagi. Lebih baik menjadi Orang Rimba, tidak disuruh-suruh. Kalau mengantuk, ya tinggal tidur saja tidak ada yang melarang).”

Orang-orang Rimba yang ‘diagamakan’ seperti Suparto memang sudah lumayan banyak. Namun, tidak banyak yang bertahan. Salah satunya adalah Din (kuperkirakan usianya 45an) dari Rombong Tumenggung Meladang. Ia yang tidak pernah menyebut nama rimbanya itu bercerita padaku. Berkali-kali ia diislamkan, salah satunya oleh Budi Kopsad, juga dikristenkan oleh misionaris asal Timor-Timur yang juga pernah bertemu denganku di Kejasung.

Kalu beraynye lah habiy, kamia masuk rimba lagi. Kalu ado urang ndok bori kamia beju, gulo, beray, nye minta kamia mansuk keristen apo islam, apo apolah ugama apo bae, kalu lah habiy kamia lagi jedi urang rimba (Kalau bantuan beras sudah habis, kami masuk rimba lagi. Kalau ada orang mau memberi baju, gula, beras, tapi dia minta kami masuk agama mereka. Jika sudah habis bantuan mereka, lebih baik kami masuk rimba lagi menjadi Orang Rimba lagi).

Bagiku sendiri terlintas, apa yang sebenarnya dibutuhkan mereka, bukan apa yang kita butuhkan dari mereka…

.

Kejasung Besar, Rombong Celitay di Nopember 2006

napak tilas bukit 12

”Belum tahu Nuk, jadi berangkat apa tidak. Aku masih googling cikungunya. Kalau memang berbahaya, mungkin aku tidak jadi berangkat,” kata Fery di ujung telpon. Posisi Fery masih di Palembang, rumahnya.

Ah, pasti tidak ’seru’ jika Fery yang kawan seangkatanku sesama Fasilitator Pendidikan ini tidak jadi berangkat. Ya, bang Abdi, kawanku di KKI Warsi yang kini menjadi Koordinator Unit Rimba memang mengatakan, Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD, Jambi, tengah diserang wabah cikungunya. Kata bang Abdi, sudah puluhan orang tumbang tidak bisa melakukan aktifitas karena serangan cikungunya. Bahkan kata bang Abdi, Tembuku, Sergi, Spintak, Berayat, Begendang, Kemetan yang pernah menjadi ’muridku’ dan kemudian menjadi kader pendidikan, juga telah kena wabah ini.

Berayat saat kutelpon mengatakan, ”Hopi bisa bejelon ibu, sakit galo podo tulangke (tidak bisa berjalan aku, sakit semua tulangku).”

Menurut bang Abdi, wabah ini memang sama sekali belum tersentuh dinas kesehatan. Meskipun teman-teman Warsi telah melaporkan kejadian yang dianggap luar biasa ini.

Pada malam sebelum aku berangkat, Fery menelpon lagi. ”Nuk, penting bawa lotion anti nyamuk. Jangan lupa juga bawa parasetamol karena hanya obat ini yang bisa diminum. Dia mampu mengurangi ngilu dan sakit di persendian jika kita kena.”

Ugh, kata-kata Fery ”..jika kita kena!” mengerikan juga. Tapi, sedikit lega juga ketika ia menjelaskan akan berangkat pada dua malam lagi, menyusul bersama temannya.

Hujan mengiringi perjalananku sepanjang perjalanan dari Pekanbaru ke desa Bukit Suban – Satuan Pemukiman I (SPI),  Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. Heri Tarmizi yang berada di samping sopir telah terlelap, begitu pula Rahmad Adi alias Ucok. Dinginnya udara luar ditambah AC mobil membuat aku mabuk. Saking lelapnya mereka berdua, bahkan ketika kubanting pintu mobil untuk mengeluarkan isi perutku pun, mereka sama sekali tidak mendengar.

“Kita sudah masuk Sarolangun, Mbak,” ujar sopir travel Pekanbaru-Sarolangun itu. Perjalanan 9 jam ini belum kelar. Namun, TNBD sejengkal lagi.

Kami bertiga tidak diturunkan di terminal. Aih, akupun rupanya telah lupa dimana biasanya ’nyetop’ angkutan menuju Pauh. Heri turun bersamaku menanyakan pada seseorang yang tengah berada di pinggir jalan. Kami tanyakan sebaiknya kami turun dimana untuk menuju ke Pauh.

Warung lontong di simpang tiga menjadi tempat kami rehat sejenak. Selain sarapan, ada baiknya menunggu hujan reda. Walau pada akhirnya hujan harus diterabas setelah kammi usai makan.

Dari simpang yang telah kulupakan itu menuju Pauh lebih dari satu jam. Terasa membosankan karena kami tidak bisa leluasa memandang keluar. Mobil bak terbuka yang diberi tambahan tutup di atasnya ini pun bocor di sana-sini.

Rumah makan padang Pauh menjadi tempat pemberhentian. Beruntung Kurniawan yang kerap kami panggil Kur Pauh membantuku memesankan ojek. Yup, abangnya sendiri beserta dua tetangganya. Kur sampai saat ini masih bekerja di KKI Warsi.

”Seratus dua puluh mbak. Memang sekarang harganya segitu kalau sampai SPI,” kata abangnya Kur. Harga yang sangat dasyat mahalnya! Padahal tiga tahun lalu, harga ojek ke SPI dari sini (Pauh) hanya Rp. 40 ribu.

Jalanan sudah banyak yang diaspal halus. ”Sejak dua tahun lalu jalan ini diaspal, Mbak,” kata mas…(lupa namanya) yang ternyata dari Semarang ini.

Meskipun lebih bagus dibanding tiga tahun lalu, perjalanan yang dulu hanya memakan waktu tiga jam ini terasa lebih lama. Dan memang benar, hujan deras membuat perjalanan terhambat. Lambat dan bahkan harus berhenti sekitar setengah jam di sebuah bangunan kayu mirip pos siskamling di pinggir jalan.

Hujan deras juga membuat aku memutuskan untuk tidak mampir ke rumah pak Jul, kontak person di Desa Jernih, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun.

Kan kuceritakan sekelumit tentang pak Jul. Dulu pak Jul kerap mengantarkanku ke wilayah Kejasung Besar dan Kecil, di beberapa rombong di sana. Ia juga sangat akrap dengan rombong Marituha di Terap. Rombong ini terkenal dengan kurap yang sangat menjijikkan bagi kebanyakan orang. Rombong yang dipimpin Tumenggung Marituha ini pada ’jamanku dan Fery’ masih menolak keras masuknya pendidikan baca tulis hitung (BTH). Ya, sekalipun jika anak-anak di rombong itu tengah ke luar desa, mereka kerap meminta kami mengajar mereka. Tetapi apa boleh buat jika rerayo (orang tua) melarang mereka belajar.

Pak Jul selain tidak asing dengan rombong Marituha, ia juga kenal baik dengan rombong Tumenggung Celitay dan Tumenggung Meladang di Kejasung. Akses ke rombong  ini dari desa Jernih setidaknya memerlukan tenaga ekstra naik turun bukit dan menempuh perjalanan sekurangnya 10-12 jam berjalan kaki. Pak Jul yang berbadan tegap ini masih kuat berjalan mengantarkanku dan Fery, bahkan membawakan carrierku.

Oleh-olehku dari Solo untuk Pak Jul dan Emak akan kuberikan nanti jika kupulang dari Bukit Duabelas.

”Mbak Ninuk, mbak, mbak..” teriak istri Wahab. Eh, telah banyak yang kulupa. Juga rumah Wahab. Akhirnya kami balik arah ke rumah bang Wahab. Sebenarnya aku enggan mampir saat berangkat. Rencanaku, aku akan mampir jika pulang saja. Tapi si mbak yang orang Cilacap itu telah memanggilku. Tak enak juga.

Sampai akhirnya siang usai makan, belanja bahan pangan dan perlengkapan masuk rimba, kami bertiga dijemput Kemetan dan Tembuku. Keduanya tampak kuyu dan tidak sesigap biasanya.

Lagi mansi sakit kaki tangonke hambanye (kaki dan tanganku masih terasa sakit),” kata Kemetan. Ia masih merasakan tidak nyamannya gigitan nyamuk penyebab cikungunya.

Dari rumah Wahab di desa transmigrasi Satuan Pemukiman I (SPI), Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, kami berlima jalan kaki menuju bendungon. Butuh waktu lebih dari satu jam berjalan kaki menuju ke sana. Sayang, jalanan sangat buruk bahkan bagi pejalan kaki sekalipun, sehingga sepeda motor tidak bisa lewat. Jika tidak turun hujan deras, jalan menuju Bendungan bisa ditempuh dengan sepeda motor.

Sebuah bangunan rumah panggung kayu pada bagian lantai atas, berarsitektur Palembang berdiri megah. Rupanya ini bangunan yang pernah diwacanakan saat kumasih bekerja di Warsi. Pada bagian depan, sepetak tanah digunakan untuk lapangan volley. Sangat nyaman dengan dua buah kamar mandi pada bagian luar. Ehmmm…

Dulu, rencana pembuatan bangunan itu akan digunakan untuk pertemuan-pertemuan orang rimba. Namun, ketika kumasuk ke dalamnya, kesan bangunan itu untuk Orang Rimba ternyata meleset. Di dalamnya, kutangkap bahwa bangunan ini mirip ’kantor lapangan’ kawan-kawan Warsi sekarang. Lengkap dengan kasur busa, bantal yang telah dinamai masing-masing orang.

Aku berdecak lagi ketika kulihat peralatan ’modern’ yang dulu diajarkan padaku untuk ”Minimalisir membawa teknologi modern karena ini akan mempengaruhi kehidupan Orang Rimba secara cepat dan tidak wajar.” Sebuah pesawat tv, seperangkat komputer, kompor gas di dapur, tampungan air besar tentu menjadikan kawan-kawan yang bekerja di rimba sekarang ini sangat nyaman.

Dari bangunan besar ini, kudengar cerita dari mulut Berayat, Tembuku, dan Begendang. Mereka kini tidak menjadi kader pendidikan lagi, tidak lagi mengajar kawan-kawannya di dalam rimba lagi.

Hopi lagi ngajor kanti ke delom. Kami pula lah jerong belik podo rimba. Tiduk-tiduk bae sioa (kami tidak mengajar lagi teman-teman di dalam –rimba. Kami juga jarang masuk rimba. Di sini hanya tidur-tiduran saja),” kata Berayat sambil tertawa.

Lah bogolainon samo waketu ibuk samo Fery yoya. Kanti Warsi hopi melawon mumpa diria. Kinia kalu ngajor ke delom cuma dua malom bae. Nye betik di kantor nioma sampoi sepuluh malom lah (Sudah berbeda dengan ketika ibu dan Fery dulu. Sekarang kawan-kawan Warsi kurang tangguh, mereka hanya mengajar di dalam selama dua malam. Selebihnya hanya di kantor ini sampai sepuluha harian),” ujar Begendang. Kata-kata mereka kucatat rapi di buku tulis pemberian Heri.

Di lain kesempatan, kuberbincang dengan Abdi. Menurutnya, Warsi sudah tidak mendapat dana lagi dari Operation Dayweek (aku lupa persisnya tulisan ini). Kami hanya kerap menulisnya project OD. Dana ini didapat dari hasil anak-anak Norwegia yang bekerja satu hari, yang kemudian gaji mereka dikumpulkan pemerintah Norwegia untuk membiayai pemberantasan buta huruf di negara-negara dunia ketiga.

”Fokus pendidikan pun sekarang tidak lagi pada pendidikan dasar. Kami sekarang lebih fokus pada pendidikan yang berbasis ketrampilan yang menghasilkan,” tutur bang Abdi.

Kata bang Abdi, pendidikan dasar masih dilakukan tetapi sangat terbatas. Pernyataannya diperkuat dengan cerita Tembuku padaku.

”Guru (alm) Priyo cuman ngajor di Rombong Marituha. Rahman ngajor podo Rombong Tumenggung Nggrip. Tika sikuk rombong, tapi nye lah berenti dari Warsi.”

Benar juga jika Sekola dan adiknya, Bedewo mengatakan jika mereka sudah tidak sekolah lagi. ”Piado guru nang bepela’jo’ko podo kami. Kalu kamia ndok belajor disuruhnye hanggo kantor. Kanti nang lah tokang pula pindok detong ngajor podo rombong kamia…(Tidak ada guru yang memberi pelajaran pada kami. Jika ingin belajar, kami disuruhnya datang ke kantor. Sedangkan- kawan yang sudah pintar –kader- tidak mau datang mengajar ke kelompok kami),” kisah Sekola yang telah piatu dan ditinggal bapaknya kawin lagi ini.

Kakak beradik ini tinggal di rombong Selambai bepak Besirup. Dulu, ada sekitar tiga belas anak belajar bersamaku, baik laki-laki maupun gadis-gadis kecil.

Saat aku, Heri, dan Ucok diajak bejejelon ke rombong Bepak Betenda, Ninjo, di Sungoi Toruyon, aku terhenyak. Mereka kini tinggal di kebun sawit milik penduduk desa. Kata Begendang yang berasal dari rombong ini, rombongnya telah beberapa bulan tinggal di sawitan. Sebab, katanya di dalam beberapa anggota rombong meninggal sehingga mereka harus melangun (meninggalkan lokasi karena ada anggota kelompok yang meninggal).

Bepak Betenda yang masih mengingatku langsung menuju ke arahku dan menyalamiku. Kukenalkan Ucok dan Heri padanya, beserta bapak-bapak lain. Sebelumnya, pada Ucok dan Heri kuingatkan untuk menjaga jarak dengan para perempuan. Yup, sesuai dengan adat Orang Rimba karena mereka berdua baru kenal.

Eik, lah benyok nian budak sioa, Bepak? Yei, budak nioma lah godong pula! (Makin banyak anak-anak di rombong ini. E, anak ini sudah besar sekarang),” seruku pada Bepak Betenda dan anak-anak di sana.

Lebih lima belas anak usia sekolah di rombong ini. Saat kutanyakan anak-anak ini belajar pada siapa, Sergi, Orang Rimba yang asal Singkut menjawab, ”Yeik, piado guru nang bepelajo’ko sio, ibu. Piado budak sio nang belajor mumpa dulu (Tidak ada guru yang memberikan pelajaran ke sini. Tidak ada anak yang belajar lagi seperti dulu).”

Di rombong ini, dulu kuperoleh setidaknya lima kader pendidikan berbakat dan mau mengajar ke kelompok lain. Mereka adalah Tembuku, Bekinya adik Tembuku, Bekangga, Begendang, dan Mulau adik Begendang. Tiga di antaranya yaitu Bekinya, Bekangga, dan Mulau telah menikah. Seperti Gemambun, Jujur, Mulung, kakok Ejam, Gelincak dan kader lain yang telah menikah, mereka bertiga berhenti mengajar.

Kabar lain dari perjumpaan di rombong ini, Nenek baru saja diajak pulang dari rumah sakit. Malarianya telah parah. Yup, selain cikungunya, TBC, kurap, kematian juga disebabkan malaria. Perintis pendidikan untuk Orang Rimba, Yusak Hutapea meninggal karena malaria. Fasilitator pendidikan lainnya, serta teman-teman pendamping Orang Rimba bisa kusebut 90% terkena malaria.

kala malaria…

“Mat’ mlm ibu apa kbrnya., ake barusan pulng dr ruma sakit, drawat, 2 hari!”

Pesan pendek itu dikirim oleh Tembuku (17), saat kuasyik mengobrol dengan seseorang yang juga di ujung telpon. Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, ini memang telah akrab dengan teknologi modern bernama handphone. Jika ada kabar apapun, kala ada signal tersedia di beberapa tempat di sana, ia akan segera mengirimkan pesan.

Ia yang pernah bersamaku menjadi kader pendidikan ini mengatakan, kena malaria. Kutanyakan lagi bagaimana kondisinya saat ini. Dibalasnya, ”Labeik bolum, tapi agk mendngan,” Balasan yang bercampur bahasa Rimba dan bahasa Indonesia.

Cerewetku kutanyakan lagi padanya mengapa cepat pulang. Sebab pengalamanku yang pernah dirawat tujuh kali di rumah sakit karena malaria, sekurangnya lima hari harus opname.

”Ake hopi ado sn, jd ake cpat pulang.,& piado nang jego ake” jawabnya lagi. Sempat linglung dengan kata ”sn”. Hmm baru kuingat, ini pasti maksudnya sen atau uang.

Kudengar suaranya agak berat tak seperti biasanya. Remaja yang telah lulus paket A ini kini tengah berada di kantor. Ya kantor. Kantor yang dibuat oleh KKI Warsi di pinggiran TNBD. Lokasinya masih masuk desa transmigran Satuan Pemukiman (SP) I. Waktu dulu, kudengar kantor ini memang diperuntukkan untuk kegiatan-kegiatan pertemuan Orang Rimba.

Malam ini, Tembuku ditemani Sergi dan Berayat. Kedua temannya ini juga pernah menjadi kader pendidikan dasar Baca Tulis Hitung (BTH) Orang Rimba.

Tembuku berkisah, Rabu lalu, Berayat mengantarnya di Puskesmas Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun. Oleh dokter puskemas, ia diharuskan opname.

”Ake domom waketu dibewo Berayat. Losi nihan hambanye tapi awokkeh teruy menggigil (Saya demam ketika dibawa Berayat. Dingin sekali rasanya, meskipun badan terus menggigil),” ujar Tembuku di ujung hp.

Satu malam ia ditemani Berayat. Esoknya Berayat balik lagi ke ‘kantor’ dan belum balik ke puskesmas hingga malam menjelang. Sepi, sendiri, kesepian yang pasti dirasakan Tembuku. Terlebih, ia ‘hanya’ seOrang Rimba di antara orang-orang yang masih menganggap ia dan komunitasnya lebih rendah.

”Piado kanti, piado nang cecakop samokeh ibu (Tidak ada yang menemani, tidak ada yang ngobrol denganku),” kata dia pelan. Saat obrolan berlanjut, baru kutahu kemudian bahwa merasa sendiri dalam perawatan bukan perkara utama.

”Ubat-ubat yoya hopi beir ibu, tapi makonkeh sehari yoi lima puluh ribu. Ake piado sen segodong iyoi untuk bemakon (memang- obat-obatan tidak bayar, tetapi untuk makan sehari saya harus bayar Rp. 50 ribu. Saya tidak punya uang untuk membayar makanan semahal itu).”

Kata Tembuku lagi, uang harus diberikan setiap hari agar ia bisa diberikan makanan. Oh… ”Diria hopi telpon kanti Warsi?” tanyaku.

Biasanya, kawan-kawan fasilitator cepat tanggap jika mendengar kabar ada Orang Rimba sakit. Namun, Tembuku harus berbesar hati. Tanggapan yang diberikan padanya adalah para pedamping pun tengah tumbang di rumah sakit untuk penyakit yang sama. Malaria…

Jelang tahun baru, 30 Desember 2009 pukul 23.07

Namokeh Beturay Hendri

oleh-oleh dari rombong celitay kemarin…

“hendri beturay”

pertama kali ia menyebut namanya aku terhenyak.

“ha! penyombong diria!” seruku

laki-laki itu juga kaget mendengar jawabanku.

aku tanyai lagi namanya, “siapo namo mikay, bebet? cubo aku hopi nganing.” matanya yang bening menatapku. ia tak segera menjawab. tampaknya masih bingung.

“hendri” entah pake y atau i. aku menulisnya begini.

“yoya namo dusun, ibo?” (itu nama orang dusun kan?)

dijawabnya, “au, ibu, namo dusun”

ia mengaku nama rimbanya beturay. nama yang bagus. wajah anak laki-laki yang usianya 12an tahun itu melankolis. tatapan matanya pun ‘ngenes’. ibunya sudah meninggal. bapaknya kawin lagi.

ia mendapat nama ‘hendri’ sejak (ia mengira-ira saja) usianya 5 tahun. waktu itu ia
diambil anak oleh orang dusun desa batu sawar dan diberi nama hendri. di rimba, ia lebih sering dipanggil hendri, bukan lagi beturay.

kini hendri hidup bersama paman dan bibinya (adik kandung ibunya). pamannya yang berpangkat depati mengatakan padaku, bapaknya tidak mau memelihara beturay lagi. entah apa alasannya. barangkali karena dapat istri dan anak baru.

hidup bersama bibi dan pamannya pun nggak kalah ngenes aku lihat. tiap pagi, ia bertugas mencuci baju keluarga yang mengidupinya. buanyak, baju yang harus dicucinya. belum lagi tugas mencuci alat masak dan makan.mencari hasil hutan non kayu, yang hasilnya tentu saja bukan untuk dirinya.

suatu sore di langit yang mendung dan gunjaron (angin besar), hendri mengatakan permintaannya padaku.

“akeh ndok nian belajor, ibu. biak tokang baco tuliy hopi lolo (aku ingin sekali belajar biar bisa baca tulis dan nggak bodoh).”

ya, permintaan yang nggak muluk memang, tapi menjadi harapan baru yang lebih baik.

kutemukan tulisanku ini tertanggal 27 Mei 2006

Guru Rimba Pergi Lagi

“Ini Priyo?” tanyaku.

“Iya mbak, saya Priyo,” jawabnya di telingaku. Di ujung handphone bututku.

“Oh, sorry, kecil sekali suaramu…” kataku lagi. Masih tidak percaya dengan lawan bicaraku.

”Iya mbak, ini saya, Priyo. Orang Warsi. Staff fasilitator pendidikan mbak.”

Lalu obrolan itu larut. Terkadang aku keterusan menggunakan bahasa Jawa setelah tahu Priyo adalah orang Jawa. Ah, dari namanya juga sudah nampak. Hmm, tapi siapa tahu seorang Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera) yang sudah tidak bisa lagi berbahasa Jawa dengan baik. Tapi lebih dari itu kuasyik berbahasa dengannya. Ia seorang berlogat Jawa kental, sama sepertiku.

Pertama kali kudengar suaranya, kukira pemilik suara itu seorang perempuan. Jika kubilang kecil, itu sebenarnya hanya untuk menutupi ketidakpercayaanku. Tak terkatakan hingga kutuliskan padanya saat ini. Bukan tak tega tetapi tak ingin membuatnya tersinggung.

Kala itu, ia mengaku kesulitan mendekati anak-anak rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Jambi.

“Maunya macam-macam,” kata dia di ujung telpon.

Suatu kali ia menelpon lagi, seakan mengadu, “Rasanya kayak dibanding-bandingkan gitu lho mbak. Kata anak-anak itu, dulu ibu Ninuk dan Fery begini-begini, sekarang kok begono-begitu. Padahal kan programnya sekarang lain.”

Tadi, ketika bang Zen staff Komunitas Konservasi Indonesia Warsi, mengirimkan pesan duka, mataku masih mengatup.

“Yang bener ah!” jawabku dalam pesan singkat. Tak terbalas. Mungkin bang Zen menganggapku kurang ajar.

Kutanyakan Koordinator Unit Rimba bang Abdi, benar bahwa Priyo telah meninggal pukul 10.05. Selain malaria, ia juga kena bronchitis.

Priyo Uji Sukmawan adalah guru bagi Orang Rimba kedua yang meninggal karena malaria. Pada 25 Maret 1999 lalu, Yusak Adrian Hutapea, perintis pendidikan alternatif untuk Orang Rimba meninggal karena malaria. Ia kemudian digantikan oleh Butet Manurung dan Oceu Aprista W, lalu Agustina Dewi Jakarta Siahaan dan Saripul Alamsyah Siregar, hingga generasi Priyo bersama Rahman pada akhir tahun 2009 ini.

Dunia pendidikan di rimba Bukit Duabelas kembali berduka. Persis seperti yang ditulis Tembuku kader rimba pada pesan singkat yang dikirimkan padaku.

”Ibu ake sedi nihan guru ake meninggal! tadi jm 10!”

Dunia pendidikan pantas berduka. Ia, sosok yang katanya mungil (aku belum pernah berjumpa) telah membantu anak demi anak rimba di TNBD terentas dari buta aksara.

14 Desember 2009 (baru dikirim hari ini saya karena harus opname)

Beli Pulsa?

Nomer handpone tanpa kutahu pemiliknya mengirimkan pesan ke nomerku. Isinya singkat, “Apa kabar?”

Jawaban singkat kukirim balik ke nomer tersebut. “Baik.”

Lalu pesan dari nomer tanpa nama itu  kembali masuk, “Nio nomer ake Tembuku ibuk”

Hmm, Tembuku dengan nomer baru lagi! Mengingat-ingat sejak ia punya hanphone tahun 2008 lalu, nomer yang ia milliki sudah lebih dari 10 dengan dua macam provider (tidak perlu kusebutkan lah ya).

Pesan singkat kader pendidikan baca tulis hitung (BTH) di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, ini kubalas lagi.

“Behelo, numor nang lamo kimono? Ngapo hopi dipakoi? Poning akeh simpan benyok numor. Yoi kalu isikko pulsa podo numor nang samo bae ibo”

Tembuku yang berdarah Orang Rimba ini hanya membalas, “Au, ake hopi tentu caro ngisinya.”

Aku membalasnya dengan ‘janji’ untuk menelponnya nanti malam. Memastikan cara mengisi pulsa, sehingga ia tak perlu gonta-ganti nomer.

Kejadian serupa berulang kali terjadi pada kawan-kawan rimba lainnya, dari awal mereka mulai menyapaku melalui alat canggih ini, hingga hari ini. Kadangkala jika kudigantung rindu pada kawan-kawan rimbaku ini, kuhubungi nomer mereka. Satu bisa masuk, beberapa lainnya dijawab seorang perempuan bahwa nomer sudah tidak valid.

Hal-hal sederhana dalam alat canggih tidak selalu mudah dimengerti. Mengisi pulsa seperti yang dilakukan Tembuku bukan hal gampang jika memang tidak mengetahui caranya. Sekalipun cara termudah dilakukannya adalah turun ke desa, pergi ke penjual pulsa. Sudah!

Kisah ini mengingatkanku pada paman kawanku di Kalimantan Tengah sana. Pulang ke Jawa, iapun kepencut untuk beli hp. Pergilah ia ke Singosaren Plasa diantar kawanku. Sampai di counter handphone, ia bingung memilih yang mana. Terbengong-bengong walah uang di kantong siap dibayarkan untuk membawa hp baru.

Kosek le, tak takon. Hpne tuku neng kene. Lha sinyale sisan tuku neng kene opo kudu tuku neng Kalimantan yo (Sebentar, aku tanya. Hp belinya di sini. Untuk sinyalnya apakah beli di sini atau harus beli di Kalimantan ya ?”

So, terserah kamu mau komentar apa.

26 November 2009, Sore mengisi otak yang lagi kosong 15.15

 

« Older entries