Ayo, Makan Siang di Baregbeg!

Matahari belum sampai tengah kepala ketika aku, Pak Bambang, Bang Jafar, dan Kang Endra tiba di warung makan Tanjakan Ali Nayin, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis. Satu mobil bercat telah terparkir di pinggir jalan. Persis di belakang mobil kami, satu mobil berplat dinas mengikuti parkir kami.

“Wah, kebak (penuh), Mbak,” tutur Pak Bambang sebelum langkah kakinya turun menyusuri jalan bersemen selebar satu meter ke arah warung. Penikmat warung milik Tarwiyah hari ini tidak terlalu penuh ternyata. Di bangku sebelah kiri dari pintu masuk, hanya dua orang laki-laki tua. Sedangkan di sisi kanan, aku tidak menghitung. Ada keluarga kecil bersama anaknya yang usia belasan tengah menikmati makan siang. Kutilik di meja, para pengunjungnya baru saja pergi dan si ibu belum sempat mengambil daun bekas bungkus nasi.

Gambar

Gambar

Nasi di bangku meja kami, nasi timbel, hanya tersisa tiga (3) bungkus. Si ibu yang kemudian kutahu rai (adik) Tarwiyah cekatan mengambilkan nasi dari bangku sebelah. Pun ketika kami ingin lauk pepes jamur. Bang Jafar yang ureung Aceh tak lupa memesan makanan kesukaannya. “Pete, Buk. Dua ya.” Pete dibakar di tungku yang terlihat oleh kami. Tidak kurang dari lima menit pete bakar dihidangkan pada kami.

Gambar

Saat aku masih menikmati tempe goreng tepung –yang menurut Pak Bambang sangat pas dan enak, teteh berjilbab yang baru kali ini kulihat menyodorkan sepiring daun. Selekasnya kutanyai nama dedaunan yang masih kuyup air dan segar itu. “Daun sawi dan daun dewa,” ujarnya. Ia cepat menghilang ke belakang.

Warung yang selalu ramai pengunjung, tetapi tanpa plang nama ini memang selalu menyajikan dedaunan untuk lalap yang aneh. Setidaknya begitu kusebut olehku sendiri. Daun kemangi dan kubis menjadi lalapan biasa yang disajikan di warung-warung lesehan di Solo, kotaku. Namun, daun dewa (aku baru lihat dan tahu namanya juga di warung ini), daun kencur, daun sawi lengkap dengan akarnya yang putih seperti lobak, daun yang lebih mirip daun beringin dan aku lupa nama daun ini, serta dedaunan-dedaunan lain adalah lalapan baru bagiku.

“Daun ini bisa dimakan juga nggak ya Kang?” tanyaku iseng pada Kang Endra. Daun yang kutunjuk adalah daun talas tiga warna, hijau bintik-bintik putih, di selingi warna merah. Dedaunan itu subur di atas selokan yang airnya kali ini agak coklat tanah. Kang Endra mengatakan sambil tertawa, bisa, setelah itu mulut bentol-bentol.

Sambal terasi yang belum ada duanya kutemukan di rumah atau warung makan lain membuat lidahku bergetar. Di hari-hari yang lalu, Tarwiyah lah yang sering kulihat menguleg cabe dan bumbu lainnya untuk menjadi sambal berwarna merah pucat. Usai makan, ketika aku mengambil wajik ketan dan kacang, kukatakan pada pemilik warung, “Tumben sambalnya kali ini pedas sekali, Buk”

Walau kepedasan, Kang Endra malah bergeser. Ia mengambil sambal satu sendok makan, lalu mencocolnya dengan tahu goring. “Pedas, Mbak, tapi enak sambalnya,” ujar bapak satu anak ini.

Generasi kedua

Jika sedang ramai-ramainya, ada seorang laki-laki yang tiba-tiba menjadi tukang parkir. Ia duduk-duduk saja di bawah pohon Talok (nama di Solo, Cerry di beberapa tempat) sambil menunggui mobil yang datang dan pergi. Jalanan arah Ciamis-Kawali-Cirebon depan warung Tanjakan Ali Nayin tidak terlalu padat, tapi kelokan-kelokannya cukup tajam.

Gambar

Warung yang selalu ramai di jam-jam makan siang ini tidak buka dari pagi. “Jam 10an sudah siap. Ibu mah buka sampai jam setengah genep (enam). Tapi kalau cepat habis ya cepat tutup.”

Ibu Tarwiyah menuturkan, bersama saudaranya, ia mulai masak dari pukul 5.30, baik di rumahnya maupun warung. “Yang tugasnya belanja rai. Pagi-pagi dia ke pasarna,” katanya.

Gambar

 

Gambarng 

Menurut cerita perempuan berusia 50 tahunan ini, pendiri warung adalah orang tuanya. Warung mulai berdiri tahun 1981. Ia merupakan generasi kedua dalam mengelola warung yang masih menggunakan kayu untuk memasak makanan-makanannya. Dalam sehari, sesepi-sepinya ia bisa memperoleh Rp 600.000. “Kalau rame mah, Rp 700.000-800.000 dapat, Neng. Tapi masih dibagi-bagi lagi,” akunya.

Sajian warung sederhana yang tidak lekang sejak lama adalah pepes, baik pepes ayam, jamur, serta mujaer, serta jenis-jenis ikan lain. Makan siang kali ini, berempat kami membayar Rp 30.000.

Iklan