Jika Pemulung Dilarang Masuk

Jeritan Rijal dari kamar sebelah memekakkan telinga. Jeritan anak usia hampir tiga (3) tahun itu menyaingi suara mengaji anak-anak dari masjid yang selalu menggunakan load speaker. Usia Rijal hampir tiga tahun, itu yang dikatakan Teh Titin, ibu Rijal padaku. Tidak pula kupertanyakan lebih lanjut usia RIjal tiga tahun itu kurang berapa bulan atau berapa hari.

“Diam! Ceurik wae (nangis saja).” Suara keras ayahnya justru membuat jeritan Rijal semakin menjadi.

“Mama kerja, Adek. Eta sore uih (pulang). Cep,” suara lembut gadis belia. Sesaat kemudian jeritan Rijal malah semakin keras. Suaranya berpindah persis di depan pintu kamarku. Dug dug dug, kakinya pun ikut mengamuk. Ia tidak terima ibunya pergi tanpa mengajaknya.

GambarSejak akhir bulan lalu, setiap pagi kala daun-daun masih menghitam Rijal menjerit-jerit. Teh Titin terpaksa meninggalkan anak bungsunya untuk bekerja. “Teteh ikut orang, Neng. Jadi pembantu. Bersih-bersih rumah, masak, nyuci di perum eta seberang jalan,” ujarnya.

Hari-hari sebelumnya, ibu lima anak ini hanya bekerja satu hari di hari Jumat. Pekerjaan yang sama, menjadi pembantu. Menurutnya, bekerja satu hari dalam satu minggu tidak menguntungkan. “Rugi Neng. Buat ongkos angkot saja genep (enam) ribu bolak-balik. Bawa pulang uang hanya sembilan ribu. Teteh dikasih gaji 15 ribu. Kalau setiap hari kerja mah jadi banyak hasilnya kan.”

Pemulung Dilarang Masuk

Suatu sore, Teh Titin bercerita padaku tentang pengalamannya bekerja menjadi pembungkus krupuk di Desa Nasol, Kecamatan Cikoneng, Ciamis. “Sebelum kerja tiap hari Jumat eta, Teteh kerja ikut orang bungkus krupuk. Berangkat pagi-pagi pulang bedug maghrib, dapatnya delapan ribu. Kalau beruntung bisa lah bawa uang 10 ribu. Dapatnya sedikit, tapi juragan Teteh mah baik orangnya. Tiap hari Teteh sama –orang-orang- yang kerja dibawain sisa yang dibungkus.”   

Suami Teh Titin bekerja sebagai pemulung. Dulu, kata Teh Titin, suaminya pernah menjadi pemulung di Kota Bandung. Hasil yang diperoleh dari memulung lebih banyak ketimbang menjadi pemulung di Ciamis.

“Sekarang mah Aa’ paling besar bisa pulang bawa Rp. 30 ribu dari memulung. Itu juga pulang sampai malam. Orang-orang mah makin banyak yang jahat, Neng. Gara-gara ada orang maling, sekarang di kampung-kampung, di perum dikasih tulisan ‘Pemulung dilarang masuk.’ Anu eta bikin Aa’ makin susah cari makan. Orang cari barang buangan buat makan saja dilarang,” keluh Teh Titin. Mata yang berkaca-kaca menatap tembok depan kamar kos kami.

Harga pangan yang merangkak naik dari hari ke hari membuat kehidupan keluarga Teh Titin semakin berat. Setiap hari, ia harus menyiapkan sedikitnya 1,5 kg beras untuknya makan beserta suami dan anak-anaknya. Jika tengah beruntung ada yang menjual beras raskin padanya, dengan senang hati ia memilih membeli beras yang kerapkali tak layak konsumsi ini.

Gambar

Perempuan berperawakan kurus ini tidak bisa hanya berpangku tangan menuunggu suami pulang memulung, lalu membelanjakan hasilnya. Teh Titin bekerja menjadi pembantu rumah tangga di salah satu keluarga. Ia dibayar Rp. 17 per hari untuk mencuci, memasak, bersih-bersih rumah, dan mengasuh menjaga Gilang sang bungsu.

”Terpaksalah Anis putus sekolah, Neng. Rijal nggak ada yang jaga kalau Anis ikut sekolah. Kesian juga, SD juga dia belum lulus. Tapi kalau Gilang nggak ada yang jaga, Teteh nggak bisa kerja. Ngandalin uang dari Aa’ buat makan nggak cukup. Belum jajan anak-anak. –anak- Yang sekolah juga kalau nggak dikasih jajan kesian.”

Kakak Anis, anak sulung yang lupa saya tanyakan namanya, diserahkan neneknya untuk dipesantrenkan di Bandung. Anak laki-laki kakak Anis lebih beruntung karena ia kini sudah kelas 3 SMP. Namun, terasa nyeri terasa ketika Teh Titin mengatakan padaku begini, ”Anis mah anak perempuan, Neng. Kalau ayak (ada) uang sekolah, kalau nggak ada uang nggak sekolah nggak apa-apa. Biarlah Santi dan Gilang (adik Anis) yang sekolah.”

# # #

Suatu kali kubaca tulisan postingan karikatur tentang perempuan miskin yang beranak banyak meminta derma pada kepada perempuan kaya beranak satu. Si kaya tidak memberikan uang tetapi memberikan pil KB.

Ingatanku melayang pada keluarga pengamen di seputar Jalan Pramuka di Jakarta, lima tahun lalu. Anak-anak yang masih balita memiliki adik lagi dan terus begitu. Seraya menunggu bis, kutanyai perempuan berkulit legam itu, mengapa tidak berKB saja. Jawabnya enteng khas orang jalanan. “Kalau ada KB gratis saya akan KB, Dik. Kan KB juga bayar. Kalau bisa KB, kami nggak bisa makan.”

Aku tersenyum kala perempuan berbocah empat itu menertawaiku. “Orang kaya kalau bosan bisa cari hiburan, sekurang-kurangnya nonton tv. Kalau kami apa? Rumah tidak punya apalagi tv. Apalagi untuk mengusir kebosanan hidup selain bercinta, Dik? Tapi ya jadinya begini, bunting terus macam tikus,” tukas perempuan asal Jombang itu.