Selingkuh atau Jadi Selingkuhan? Biasa….

Baru dua (2) Sabtu aku menyewa kamar di kampung ini, banyak kudengar kisah –yang menurutku antara- lucu dan ironis. Aku tidak akan menyebutkan nama kampungnya. Letak kampung ini kira-kira di pertengahan antara Kota Ciamis dan perbatasan Tasikmalaya. Seperti umumnya kampung-kampung di Ciamis, kampung ini banyak ditemukan kolam ikan air tawar. Persis di belakang kamar kosku juga kolam ikan. Meskipun tidak terlalu padat, rumah-rumah ini seperti menyatu. Mengarah ke jalan utama, petak-petak sawah dan kebun makin segar usai disiram gerimis. Ya, hanya gerimis yang turun setelah minggu lalu diguyur hujan hingga menyebabkan banjir di kosanku.

Di sini, persis di arah depan kamarku, berselang satu rumah adalah rumah Teh Dudu. Anaknya laki-laki menderita down syndrome.  Nama persis anak laki-laki itu belum kutahu. Ia dipanggil Abang. Teh Dudu suka sekali menggodanya dengan menyanyi lagu yang belum kutahu judulnya dan kelanjutannya pula. “Bang, beli bawang….” Kalau sudah begitu, Abang langsung menyahut, “Nyanyi eta wae ih!” Mimiknya seperti marah, tetapi hanya dalam hitungan kurang dari lima (5) detik. Abang biasanya langsung mengoceh atau melanjutkan bermain.

Anak laki-laki itu sangat takut sama monyet (Macaca). Kutahu ketika tadi siang, kami berlibur ke Karang Kamulyan. Ia tidak lepas dari gendongan kakeknya. Beberapa kali pamannya menggoda dari belakang, mengagetinya. “Sudah dua kali ke sini, tapi tetep wae takut sama monyet,” tutur Teh Dudu.

Abang yang usianya empat (4) tahun itu sangat akrab dengan pamannya yang pegawai Dinas PU, Pak Aa’. Rumah mereka saling berhadapan dan hanya berselang jalan bersemen selebar satu (1) meter. Abang tinggal tidak bersama ayahnya. “Entah bapaknya kamana…” kata nenek Abang. Matanya menerawang sedih.

Teh Dudu perempuan yang ceria. Hampir setiap pulang kerja, ia datang ke depan kosanku. Dari cerita atau omongan-omongannya, orang-orang tertawa terpingkal-pingkal. Hanya aku yang kadang tertawa, itupun terlambat setelah diterjemahkan. Tidak seperti perempuan kebanyakan, Teh Dudu penikmat rokok.  

Pacaran masa tua

Sebelah kiri kamarku kamar Bi Amoy. Janda lima (5) anak ini memilih tinggal sendiri dan menyewa kamar. Dari kelima anaknya, anak bungsunya masih melajang dan ikut pamannya. “Anak ibu yang bungsu masih kuliah, Neng. Sekarang bantu-bantu pamannya di lestoran (restaurant).”

Sambil menggelesot di kamar kos saya, Bi Amoy bercerita. “Dulu rumah saya di Ciamis. Besar Neng rumah saya. Ada enam (6) kamar. Tapi anak saya terlilit hutang. Dia pinjam uang di bank, trus sertifikat rumah saya diganti nama dia. Dia gadaikan sertifikatnya. Utangnya Rp 50 juta. Kan nggak bisa nyicil, rumah saya disita. Sudah jadi Rp 80 juta lebih hutangnya. Dia bilang rumah saya akan diganti, mau dibelikan yang baru. Hegggg, utangnya saja nggak bisa bayar.”

Bi Amoy telah bekerja sejak sebelum menikah. Ia tidak diperkenankan bersekolah oleh orang tuanya. “Yah, sampai sekarang buta huruf,” ujarnya sambil tertawa. Memperlihatkan dua gigi depannya yang telah tanggal.

Perempuan yang berjualan sayur sejak usianya belum genap 15 tahun ini telah menjanda dua (2) kali. “Yang pertama ditinggal kawin lagi. Sama dia –mendapat- satu anak. Juragan krupuk dia Neng. Dulu waktu sama saya dari belum kaya, masih ikut orang. Sampai akhirnya punya truk. Tiga,” sebutnya mantap.

‘Mantannya’ begitu dia menyebut suami pertamanya, kini telah dikarunia empat anak dari istri-istri berikutnya. “Sudah kawin cere (cerai) kawin cere dia mah.” Suami kedua Bi Amoy meninggal karena sakit. Bi Amoy tidak menikah lagi?

“Ibu mah sudah tua. Sudah 50 –tahun- lebih, Neng. Malu sama anak. Kalau butuh duit teh, tinggal minta sama anak ajah. Tapi Ibu punya pacar. Pacar aing sopir yang tiap hari anta jemput Ibu ke pasar eta, Neng. Tapi di pasar, Ibu juga punya pacar. Penjual daging, Neng. Jadi pacar Ibu dua,” kisahnya sumringah. ‘Pacar’ diucapkannya dengan nada mantap dan optimistis.

Penuturannya yang terbuka membuatku berani bertanya mengenai status pacar-pacarnya itu. Enteng saja si Ibu ini berujar, “Sudah. Ada istri anaknya. Sudah punya cucu mereka. Ibu mah buat senang-senang ajah.”

Disiri tak apa

Lain Bi Amoy lain pula Bi Cece. Dari perkataannya sendiri, Bi Cece telah menikah enam (6) kali. Dari kesemuanya, Bi Cece tidak mendapat satu (1) anakpun. “Dulu suami saya yang ke dua lebih muda dari Mamah, Neng. Mamah umur 25, suami ibu itu masih –umur- 17 –tahun. Mamah janda dapat brondong,” katanya sambil tertawa.

Perempuan 60an tahun lalu melanjutkan kisahnya, juga di kamar kosku. “Mamah kan dulu kerja di Jogja, Neng, di Seleman (Sleman). Mamah kerja mendreng (kredit segala macam perabor rumah tangga). Lama Neng, delapan (8) tahun. Tapi Mamah nggak bisa boso Jowo (berbahasa Jawa). Gimana mau bisa Jawa kalau orang-orang serumah sama Mamah Sundaaaaaa semua! Suami saya itu dulu pernah ikut ke sana –Yogyakarta. Kami pulang, kawin. Balik ke Jogja lagi suami saya nggak betah, ngajak pulang. Saya pikir-pikir, pulang mau kerja apa. Kami teh pulang, tapi mau balik lagi suami nggak mau. Gimana bagusnya cena (saya –Ninuk- tidak tahu makna kata ini), pisah.”

Bi Cece mengaku, dari keenam suamianya, suami kedua lah yang paling dia sayangi. “Gimana nggak sayang, Neng, dia masih muda. Ihhh, ganteng Neng! Nuruttttt sama Mamah. Kami pisah baik-baik. Sekarang dia sudah punya anak. Kalau saya nggak punya uang, suka saya ketemu dia. Mamah minta duit masih dikasih Neng. Dia di Tasik sekarang.”

Persisnya saya lupa berapa orang suaminya yang cerai hidup. Seingat saya dari cerita Bi Cece, suami terakhir meninggal, juga tidak meninggalkan anak. “Mamah teh sudah ada yang mau lagi, Neng. Dia bilang mau nikahin siri sama saya. Disiri aja nggak apa, Neng. Mamah teh prinsipnya asal ada yang bertanggung jawab aja.” Pertanyaanku tentang ‘calon’nya itu mendapat jawaban serupa dengan jawaban Bi Amoy, lelaki yang hendak menikahinya sudah mempunyai istri, anak, dan bahkan cucu.

 

Saling berpacaran

Menjadi pacar -barangkali istilah kasarnya selingkuhan- seseorang yang sudah mengikatkan janjinya dalam pernikahan seperti diceritakan biasa. Kudengar dan kuhitung dengan jariku, lebih dari 12 orang, bukan hanya dari ibu-ibu dan bapak-bapak di kampung ini. Cerita yang sama juga pernah kudengar dari pegawai di instansi pemerintahan.

Teh Nunuy yang berkamar di depan, menghadap dapur rumah Pak Haji, menyebutnya Bunda. Di usianya yang ke 52 tahun, penampilan Bunda masih top markotop seperti ABG. Alisnya dipangkas habis dan digantinya dengan coretan pensil alis warna coklat. Hanya ‘mak njlarit’ (segaris-terjemahan bebas, Jawa). Kulitnya kuning langsat, bersih. Selain suka lagu dangdut, Bunda juga menyukai lagu-lagu manca. ‘You and I’nya Scorpions menjadi nada tunggu handphonenya. Walau sepertinya tidak bisa melafalkannya dengan baik, Bunda tetap pede menyanyikan. Hemmmm, hemmmmm…lalu refrain/chorus (puncak emosi lagu) yang diucapkan sekedarnya.

Bunda menempati kamar sebelah kamar Bi Amoy. Saat aku tengah menjemur seprei, Bunda berhenti lalu bercerita panjang mengenai dirinya. “Bunda teh ada rumah, Neng, di belakang pasar. Ada anak Bunda yang paling kecil sama neneknya. Sekarang kelas 2 SMP. Kalau yang nomer dua sudah kerja jadi perawat di Bandung. Sudah tiga (3) tahun dia kerja di Bandung. Yang gede (pertama) kemarin istrinya baru saja melahirkan.”

Di kamar kos, Bunda hanya kadang-kadang datang. Hampir sama dengan penghuni kos paling ujung, sebelah kamar Bunda. Namun, keberadaan Bunda di kos lebih sering nampak ketimbang penghuni ujung. Bunda tidak menceritakan detail mengenai status perkawinannya seperti halnya Bi Amoy, Bi Cece, dan Teh Nunuy. “Kalau aa’ datang ke sini ya Bunda ke sini. Dia kan ada istri, ada anak. Tapi sering banget ngajak nginep di sini.”

Sok lugu kutanya, “Loh, kok ada istri, Bun?” dijawabnya ringan, “Iya, Bunda kan cuma pacaran sama aa’.” Saya manggut-manggut. Teringat kisah ibu-ibu yang ngrasani (menggunjing) ibu yang berkamar kos di ujung.

“Orang itu jarang datang, Neng. Dia istri muda. Entah yang ke tiga atau ke empat nyak? Katanya teh dikawin sirih. Kalau suaminya datang baru dia datang. Kan jarang nampak kan? Xxxx juga istri orang. Jadi dia punya dua suami. Yang satu suami resmi, yang satu nikah sirih,” tutur Mamah Idah. Saya lupa nama yang disebutkan ibu-ibu pada ibu berjilbab di kamar ujung itu.

Dalam diamku pelan-pelan terjawab bertanyaanku sendiri. Sekalipun di dinding luar kamarku tertempel berderet aturan, salah satunya harus menyerahkan identitas diri, dan aku tidak melakukannya tidak pula mendapat sanksi. Pun ada aturan tidak boleh membawa lawan jenis yang bukan suami atau istri sah (tertulis di aturan itu secara Negara), Bunda dan Ibu yang berkamar di ujung tetap aman tinggal.