Cicak muda

Nggak seperti biasanya aku bangun sepagi seperti pagi tadi. Maksudnya, bangun pagi hening sejenak sekaligus bercinta, lalu kembali ke pangkuan awing-awang. Tidur. Usai adzan berkumandang dari masjid di gampong Lhok Keutapang, mataku malah nggak bisa tidur lagi.Ya sampai sore ini.

Biasanya, ‘kerjaan’ nyapu debu, yang mungkin telah bercampur butiran garam kulakukan usai lepas dari jam kantor. Kerapkali di hari kerja ya di malam hari. Tapi tadi, kulakukan saat burung-burung gembira bernyanyi. Suaranya lantang terdengar. Mereka yang bertubuh kecil terbang dari bukit di belakang rumah, lalu hinggap di sela-sela atap. Kadang, mereka bersuka ria di antene parabola yang terpasang di tempat menjemur baju di lantai atas.

Berminggu-minggu ini, setiap lampu rumah dinyalakan, puluhan agar nggak disebut berlebihan, serangga mirip tubuhnya nyamuk berdatangan. Ia yang juga seperti lalat jika ditilik dari sayapnya, menari sepuas-puasnya di sekitar lampu. Lalu ketika tubuh kecilnya kehabisan tenaga, ia akan terkulai tak berdaya di lantai keramik yang putih. Mungkin juga akibat ‘kecelakaan penerbangan’ mereka sendiri.

Tiap pagi ketika pintu menuju balkon kubuka, rasa sebal yang kerap menjadi umpatan kerap keluar dari mulutku. Kadang hanya sekedar, “Halah, reget meneh! (Kotor lagi)” karena kumerasa setiap hari membersihkannya. Datang dan selalu datang. Kini kuakali, jika malam tiba, lampu hanya kunyalakan seperlunya. Lampu lantai dua hampir tidak lebih dari sepuluh menit kuhidupkan. Yup, supaya serangga itu tidak datang.

Dua kursi warna merah kugeser. Kuyakin makhluk-makhluk bersayap itu juga ikut merangsek ke bawah kursi. ”Srettttttttttttttttttt….” kursi menderit.

Ahkgggggg!!!!!

Cicak yang belum dewasa itu megap-megap. Perutnya yang sangat ramping robek. Kejet-kejet hingga beberapa saat. Aku hanya melihatnya, sebelum akhirnya beralih pada makhluk bagiannya. Ia yang terpatahkan meronta meminta kembali. Pada tubuh kecil ringkih itu. Ekornya persis pacet terkena api.

Pagi tadi aku membunuh satu nyawa. Perih tapi tak bisa berbuat apa-apa. Selain berharap ia secepatnya mati agar tidak mengerang nyawa dengan kesakitan lebih lama. Sesal pada tubuh kecil itu. ”Bukankah aku yang membantumu beberapa hari ini? Kumakan serangga-serangga kecil yang selalu menganggu terangmu? Kini kau bunuh aku.”

Sedih….

9 September 2009, jelang pulang jam kantor

Iklan

Kantor Cabang, Tempat Buang Hajat

“Mampir dulu nggak bang, ke kantor cabang?” begitu tanya Didik sambil tertawa pada Bang Paldi, driver yang mengantar aku, Didik, mbak Oni dan mbak Rita pada Desember tahun lalu. Kami pulang dari Parapat menuju Tapaktuan, Aceh Selatan. Bang Paldi yang ditanyai malah menjawab dengan tawa yang renyah.

Sore tadi, istilah ’kantor cabang’ kembali terdengar dari mulut Dede. ”Sebentar lagi kita masuk kantor cabang ya mas?” Kali ini pertanyaannya ditujukan pada Didik.

Hmmm, apa toh kantor cabang? Batinku. Tapi kemudian kutanyakan juga pada keduanya, dan hanya disambut tertawa. ”Ra ngerti tenan po, Nyil?” tanya Didik padaku, dengan panggilan versi akrabnya, yang dibuatnya khusus untukku, Unyil.

”Ya, sebentar lagi kita lewat di kantor cabang,” begitu kata Didik, pastinya jawaban untuk Dede, tetapi mungkin juga menegaskan padaku.

”Nah, ini salah satunya,” kata Dede. Spontan entah ditimpali kalimat apa oleh Didik. Aku lupa persisnya.

Dari kaca buram mobil hanya tampak bangunan semi permanen terbuat dari papan kayu. Bangunan itu lebih tinggi dari jalan. Ia berada di sisi kanan jalan arah Medan – Aceh Selatan. Jendela ala kios-kios warung yang bisa dibuka papannya satu persatu nampaknya hanya dibuka dua papan saja.

Seorang lelaki tampak tengah duduk sambil merokok, berjaket warna coklat berpadu warna krem. Dari jendela kecil itu, dia menghadap ke arah jalan arah Medan. Sepertinya ia duduk persis di pojokan rumah. Tangan kanannya ditekuk ke arah dalam. Memang, rokoknya tak kulihat secara langsung, tetapi dalam pandanganku yang hanya sekian detik, mulutnya mengepulkan asap. Pastinya asap rokok.

Saat posisi mobil menjauhi bangunan kayu itu, dari sisi arah jalan ke Aceh Selatan, pintu terbuka. Kepalaku yang menengok ke belakang mengikuti bangunan, menemukan dua perempuan berpakaian ketat –kalau tidak dikatakan seronok. Sepertinya ia tengah berbincang dengan orang-orang di dalamnya.

Secepat kilat mobil yang dikendarai Didik melaju. Kuambil kamera poket, tapi telat. Mobil melaju sangat kencang di aspal yang mulus.

”Tinnnnnnnn…. tinnnnnnnnnnnn….” begitu klakson dibunyikan Didik. Panjang. Kulihat mobil di belakang yang dikendarai bang Paldi, yang berpenumpang mas Doni dan pak Dar, tak membalas klakson yang dibunyikan Didik.

Lalu, pada sisi kiri jalan, bangunan semi permanen lain berdempetan. Mungkin lebih dari lima bangunan, berupa kios-kios atau warung makan. Botol-botol dari air mineral hingga bir terpajang di sana.

”Wah, masih sepi,” ujar Dede. Tapi kemudian, ”Ha!” serentak Didik dan Dede berkata. Lalu keduanya tertawa.

Seorang perempuan berambut panjang mendadai mobil yang kami kendarai.

Hm hm hm…tahu aku apa yang disebut kantor cabang! ”Ohhhhh….itu to maksudnya kantor cabang?!” entah pertanyaan atau justru jawaban yang kutemukan sendiri.

Aku membatin lagi, ”Oh, makanya waktu lewat sini malam-malam ada waria berpakaian seksi. Juga beberapa perempuan berpakaian serupa. Ya itu tadi jika tidak mengatakannya dengan istilah seronok. Beberapa mobil di parkir di depan warung-warung makan yang terbuka.”

Ya ya, mungkin ini pula salah satu tempat yang menjadi keprihatinan lembaga internasional, yang berfokus pada isu HIV AIDS, hendak melakukan advokasi terkait hal ini. Bukan Pak Pak Barat, Sumatera Utara, tempat kantor cabang ini ada, tetapi lebih fokus di wilayah Aceh Selatan.

Aku jadi ingat tentang istilah ’buang hajat’. Istilah ini kerap diucapkan bukan hanya teman-teman sekantorku, tetapi juga kawan-kawan kerja di tempat lama yang pernah bekerja di Aceh. Juga teman yang baru kukenal saat perjalananku pulang dari Tapaktuan, Aceh Selatan menuju Medan.

Kata mereka, orang Aceh banyak yang buang hajat di tempat itu. Ya buang hajat di kantor cabang. Bukan, bukan semua orang Aceh, tetapi orang Aceh yang tidak memiliki lawan untuk membuang hajatnya. Membuang birahinya. Salah, ia barangkali punya istri, tapi entahlah mengapa masih pula main ke kantor cabang.

Atau juga karena di Aceh sangat dilarang untuk bercinta di sembarang tempat. Hiks, meskipun di beberapa tempat kutahu ada juga pasangan nekat bermesum sembunyi-sembunyi. Ya iyalah, Nuk, masak di jalanan kayak di Medan sana! Ini kan Aceh! Kataku pada diriku sendiri. Maksudku sih, sampai ke semak-semak di balik atau di kaki-kaki bukit yang rimbun.

Balik lagi ke kantor cabang, letaknya memang di perbatasan Aceh dan Sumatera Utara. Pak-Pak Barat hanya berjarak beberapa kilometer dari Subulussalam, Aceh Selatan paling timur! Tempat mampir para sopir, yang pengen ngepir, katanya. Juga tempat mampir para orang yang senang plisir untuk urusan semrinthil hehehehe….

Kantor cabang, tempat yang aman untuk buang hajat. ”Wilayatul Hisbah atau yang kerap hanya disebut WH (polisi moral ala Aceh) nggak bisa nggerebek sampai ke sini, makanya aman-aman saja kalau mo buanh hajat di situ,” begitu kata teman seperjalananku pada April lalu.

Hmmm, ya ya…..

Kamar putihku
Minggu, 6 menjelang 7 September 2009, 23:34

kantor cabang dari jauh..

kantor cabang dari jauh..

BPK

“Mampir bentar yah?” tanya Didik padaku dan Dede. Mobil diparkir di sebelah kiri. Tak jauh dari tempat mobil di parkir, hanya sekitar 3 meteran, warung sangat sederhana  mengepulkan asap. Bangunan warung itu hanya terbuat dari anyaman bambu. Dua orang lelaki asyik mengobrol di bangku yang disediakan, ditemani dua kelas berisi cairan warna hitam pekat. Kuyakin itu kopi.

Waow, ada dua tubuh digantung. Warnanya agak kecoklatan. Beberapa bagian tampak gosong kehitaman. Tapi di ujungnya tampak putih, barangkali lemak. Ukurannya tak begitu besar. Hanya sebesar tiga kali tubuh kucing dewasa. Satu tubuh, tak tampak kepalanya. Satu tubuh lagi mendongak ke atas, tetapi tidak begitu jelas ia menghadap kemana, masih utuh atau tidak.

Kaki tangannya ada yang masih utuh, ada yang telah hilang dipotong. Asap mengepul dari bawah tubuh digantung itu. Sesaat hilang, sesaat muncul lagi. Ia pergi menjauh menurut pada angin yang membawanya ke arah jalan, lalu lenyap ditelan awan.

Aku mengambil beberapa foto ketika Didik bertransaksi, tapi sengaja hanya untuk mengambil dua tubuh mengantung itu. Unik!

Yup, sekalipun di sepanjang jalan dari arah Parapat menuju Aceh warung-warung babi panggang bertaburan, tidak semua warung memajangnya. Ketika waktu lalu Didik juga membeli BPK di Merek, di warungnya juga tidak menampakkannya ke ’publik’. Hanya tulisan di depan warung saja terpampang ”BPK”

Nah, aku sendiri sebenarnya belum tahu tuh kepanjangan BPK itu apa. Yang kutahu cuma babi panggang. Kepanjangan dari Knya entah apa. Kamu tahu nggak?

Ngomongin BPK, ada yang kulupa. Pernah ada kawan yang menanyaiku atau aku sengaja bercerita seputar daging, lalu aku bilang daging binatang yang belum pernah kumakan daging babi. Hiks, pasti aku lupa! Ya, sungguh-sungguh lupa!

Ninuk, bukankah semasa kecilmu di Solo, hampir setiap hari kamu makan daging babi? Ya, seingatku, aku kerap membelinya di warung Bu Citro yang kini telah almarhum itu. Daging babi kala itu dijual bebas di kampungku. Entah siapa yang membuat. Kerapkali pula aku telah menemukannya di meja makan di rumahku. Sama seperti yang dijual bu Citro, daging babi yang tersedia di rumah juga masih berbungkus daun pisang. Kadang daunnya terasa berminyak hingga bungkus di luarnya. Barangkali saja tangan si penjual menjadi sangat berminyak saat mengambilnya, hingga minyaknya ikut melekat di bungkusnya.

Rasanya? Sangat enak seingatku. Kalau nggak enak, ngapain aku membelinya hampir setiap hari. Memakannya dengan lahap seperti kalau mbah putri mengoleh-olehi aku capcai tepung yang dicampur dengan bakmi dan bihun. Bungkusnya yang boleh dikatakan tidak besar, bungkus daun pisang, sangat mirip dengan bungkusan daging babi.

Dan soal rasa, aku lupa daging babi itu dimasak apa. Barangkali saja hanya dibumbui merica, bawang putih dan garam. Bumbu apa itu namanya kawan?

”Najis,” begitu kata seorang kawan saat kuceritai kalau aku pernah makan daging babi. Ya, cerita masa kecilku. Entah apa maksud kata-katanya, mungkin aku najis karena pernah makan daging babi.

Wew, lah jamanku dulu dengan sekarang jauh berbeda. KTP ibuku memang mengatakan beragama Islam, tetapi dulu ibuku juga hanya sholat di kala lebaran tiba. Rukuh atau mukena milik ibu juga sudah robek di sana-sini. Itupun pemberian mbah Putri.

KTP bapakku malah tidak jelas disebutkan apa agamanya. Aku sendiri, kulihat rapot-rapotku tercantum beragama Islam. Meski di masa kecil, aku tidak pernah dilarang oleh bapakku, ibuku, juga mas-masku yang rajin beribadah sholat untuk ikut Natalan, Paskahan, atau diajak ke wihara oleh tetangga, atau juga saudaraku. Bahkan ingatanku, aku sangat senang ketika diajak ke gereja yang juga menjadi rumah tetanggaku, mbak Mari, saat Paskah berlangsung. Apalagi kalau bukan soal perut di masa kecil. Aneka makanan warna-warni dan telur yang dihias sangat menarik diberikan untukku.

Hmmm, masa kecil yang menyenangkan. Tidak ada kewajiban untuk ikut TPA seperti ponakanku, juga anak-anak kecil lain. “Masak orang Islam nggak bisa ngaji!” begitu kata tetangga baruku dari Purwodadi, Nurhadi.

“Kalau mengaku Islam ya anak-anaknya wajib ikut TPA biar bisa ngaji!” kata dia pada tetanggaku dengan suara keras. Mungkin biar aku mendengar. Ah, tapi aku tidak merasa tersindir.

Ya, masa kecilku, jangankan untuk ikut TPA, hendak sholat ke masjid saja harus ke Surakarta, ke masjid Tegalsari, Laweyan. Di kampungku sendiri seingatku, masjidnya sangat jauh, lebih jauh dari –jika- aku ke masjid Tegalsari. Dan kurasa mengapa daging babi dapat ditemukan dan dimakan dengan begitu mudahnya, ya karena memang orang-orang tidak tahu kalau daging satu ini nggak boleh dikonsumsi orang yang mengaku beragama Islam.

Aku baru tahu tentang larangan makan daging babi ketika masuk SD. Itupun seingatku antara kelas empat dan lima.

Wew, tapi mengapa mas-masku juga nggak pernah melarangku ya? Mbakku yang satu-satunya pastinya juga mendapat pelajaran yang sama, dengan guru yang agama yang sama, Bu Parti. Tapi kok dia juga kerap merebut daging babiku? Entahlah. Tapi yang jelas, seperti apa persis rasanya aku tak ingat lagi. Hanya enak yang kuingat. Begitukah?

Ditemani Franky dan Jane

asap mengepul

asap mengepul

dipotong dikit-dikit

dipotong dikit-dikit

kakinya udah ilang

kakinya udah ilang

nampak kan?

nampak kan?

Senin 7 September 2009 : 00.15

Pagi ke 6

Pagi ini adalah pagi ke enamku di kamar 510 hotel Niagara, Parapat. Sekalipun lebih dari tiga kali aku menginap di hotel yang sama, rasa yang sama juga masih kurasakan, asing. Dalam pandangan mata, juga teraba dalam kulitku yang semakin berkerut sekaligus kering, kemudian berselancar ke seluruh tubuhku, entah tetap kurasai ini bukan rumahku.

Seperti pagi ini dan pagi-pagi sebelumnya, aku tak berkewajiban untuk sekedar melipat selimut yang kupakai seorang diri. Acak-acak usai melebur mimpi tanpa merapikan barang selipat pun darinya. Ini bukan aku!

Lalu bergegas menuju kamar berukuran kecil tetapi tersedia berbagai keperluan untuk membersihkan diri. Jika saja kumau, sejorok apapun kumemakainya, siang nanti kala kuingin rehat sejenak dari kepenatan di ruang pertemuan di bawah sana, semua telah rapi. Kembali ke keadaan semula saat kudatang pertama kali. Bahkan setetes air dari cipratan saat kumenggosok gigi pun telah sirna.

Sejuk yang kerap justru kurasa sebagai dingin teratasi dengan butiran air hangat. Tak perlu kurepot turun ke dapur mengambil ceret, memasukkan air ke dalamnya, lalu menungguinya hingga ia menderit “tiiiiiiiiittttttttttttttttttttttttttttttttttttttt….” Tak sampai di situ, aku harus membawanya ke lantai atas. Lantas mengambil beberapa gayung air, meletakkannya di ember, mencampur air panas dengan air bak di ember. Di sini, tombol berwarna putih di sebelah kiri tinggal diputar. Jika panasnya keterlaluan, aku tinggal seimbangkan dengan tombol di sampingnya, samping kanan, air dingin.

Dan handuk putih bersih itu setiap hari diganti. Ya, sejorok-joroknya aku di sini, yang dengan sengaja ngumbrukke kain lebar itu, siang akan ada penggantinya. Lipatan rapi, dengan peletakan yang tidak seenaknya seperti yang kulakukan setiap hari di sini.

Selesainya, turun ke meja makan. Tinggal duduk di kursi yang telah disediakan, santapan pun satu per satu dihidangkan. Jika saja perutku sebesar karung beras, habis makanan semeja kulahap. Dari makanan berkarbohidrat, berlemak, protein, vitamin dan tetek bengek disediakan di meja bulat di lantai empat itu.

Rupanya, tak hanya itu. Pada tempat yang berbeda, di ruangan yang kadang membuatku merasa jengah, bosan. Tetapi juga kerap kali membuat gigiku yang buruk ini terlihat manakala satu dua kawan menyelutuk hal-hal yang membuat geli dan lucu.

Lagi-lagi di ruangan itu, pukul 10 dua macam air minum dihadirkan dengan perlengkapannya. Makanan pendamping maksudku. Belum juga usai lambungku menggerus sarapan, makan siang pun siap ditelan. Pukul 15 makanan yang entah berupa apa lagi siap dirasakan daging kenyal yang hanya berukuran belasan sentimeter ini!

Di sini aku lupa bagaimana rasa lapar itu. Di sini aku lupa bagaimana makanan yang sudah berbau tengik menusuk hidung dan menggetarkan daging kenyal di antara gigiku. Di sini, aku pun lupa bagaimana aku harus bergegas, bangun tak boleh telat karena pak Rasidi atau bang Tapoen telah menunggu di bawah untuk menjemput kami. Yang kadang masih kubilang, ”Pak, tak nggoreng endok sedelo ya,” untuk sekedar mengisi perutku yang lapar.

Aku lupa setiap pagi mbak Nur dan kawan-kawan repot memasak untuk sarapan. Terkadang karena malasku bangun, sarapanpun harus kulahap di dalam mobil menuju ke kantor. Kerapkali pula belum habis hingga pintu kantor, melanjutkannya di ruang kecil tetapi lebar berjendela besar. Ruanganku dengan mas Enggal.

Kakiku rindu menitik setitik demi setitik lantai kamar mandi, mengadunya dengan sabut warna biru, lalu menggosoknya agar lumut pergi dan tidak meninggalkan licin pada petak-petaknya. Tanganku yang selalu harus memukul-mukul dengan batu gosok badanku, untuk sekedar membuka tutup bak mandi. Rindu.

Bukan, bukan tempat ini yang asing. Namun, asingku justru pada diriku sendiri.

Sabtu, 5 September 2009. menikmati toba di 08.22

nyaman, seharusnya

nyaman, seharusnya

lukisan alam pada jendela

lukisan alam pada jendela

usai badai tiba

dingin banget malam ini. sore tadi, ketika tiba waktunya teman-teman berbuka, angin merangsek masuk pintu berbelah tengah di antara lantai lima dan empat itu. kencang, persis seperti badai yang kerap membuatku takut manakala aku bertinggal sementara di wilayah pesisir, sekaligus berbukit, tapaktuan, aceh selatan. saat lalu, mbak elis mencoba menutupnya. tapi rupanya ia tak mampu menahan laju badai danau itu. terbanting tanpa suara. teriakan menderu justru dari arah jauh sana, membawa alur-alur tak beraturan, terombang-ambing.
amukan badai petang tadi dari arah barat, tepat tengah danau toba dari niagara hotel tempatku bermukim sementara di minggu ini. sore lepas pelatihan penanggulangan resiko bencana berakhir, keceriaan toba sirna. ia hilang dalam awan hitam yang semakin menebal bahkan menutup bukit yang biasa hijau rumput. agenda berenang sore ini batal. dingin, hanya itu alasan tubuhku. nun jauh barat daya, butiran lembut air langit turun miring bergabung bersama sang toba. kelabunya hingga menusuk ke dalamnya.

amukannya telah usai. hanya rintik kecil bersama dingin menggigit tulangku yang berbalut kulit tipis. mungkin, hingga pagi esok…

hampir malam, 3 september 2009, 10.12

toba belum diamuk badai

toba belum diamuk badai